Liburan Sejarah



Della : Cit, main yuk ke museum-museum yang ada di Bogor? Kita jalan-jalan murah meriah 
Citra : Wah, ayo! Nanti gue ajak Teguh yah? Elu ajak yang lain, Delle 
Della : Okee gue ajak Angga yah? 
Citra : oke nanti hubungin gue lagi yah? Kita sebut ini PiknikAsik oke? Nanti kita ketemu di A&W hari Senin, 28 Jan 2013 jam 10.00 yah? 
Della : sipppppppppp!

Waktu merupakan salah satu sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui dan juga diganti, tapi waktu bersifat terbatas dan dimiliki oleh setiap manusia. Terlalu banyak waktu yang saya sia-siakan untuk melakukan berbagai hal yang mungkin tidak bersifat produktif seperti ini. Terlalu banyak juga cerita menarik yang mungkin tidak kalian ketahui dari keseharian yang sudah saya lalui selama beberapa bulan terakhir ini dan hal ini adalah bertapa sulitnya saya dalam memanajemen waktu yang saya miliki. Akibat terburuk dari sulitnya memanajemen waktu dengan baik dapat dilihat dari nilai UTS Semester 3 ini terbilang buruk. Well, let’s forget about the score of sucks I got in UTS. Semoga blog saya yang sudah tidak terawat ini dapat tersegarkan kembali dengan rangkaian kata yang membentuk berjuta-juta kalimat ini yah 😀

Ih Della! Kok jadi serius sih bahasannya? l Iya tau iyaa... l Katanya mau cerita tentang piknikAsik ke museum-museum? l oke oke sedikit melenceng maaf yah ppffftttt

Senin, 28 Januari 2013
Hari ini saya akan mencoba menumbukan rasa nasionalisme yang sedikit memudar karena beberapa hal yang salah satunya adalah masalah hukum yang mudah dibeli oleh mereka yang tidak ingin terjerat olehnya. Akan tetapi bukan hal itu yang akan saya bahas karena saya tidak cukup pintar untuk mengulasnya secara mendetail -_-

Liburan sejarah ini dimulai dari tempat yang sudah sering kami lewati tapi tidak pernah sekalipun kami kunjungi. 

Ha? Serius Del? Emang apaan tuh? l Iya ciyuuss! Yuk deh simak cerita gue

Tempat itu adalah Museum Perjoangan, museum yang sangat bersejarah bagi masyarakat Bogor. Banyak cerita di dalamnya tentang perjuangan dari para pejuang bangsa memperebutkan kemerdekaan ini. Tanah yang diatasnya berdiri bangunan kokoh itu bukanlah milik pemerintah tetapi milik seorang belanda sebagai gudang ekspor komoditas pertanian. Museum ini juga pernah menjadi tempat para tentara Jepang menyimpan seluruh senjatanya sebelum digunakan untuk menyambut kemerdekaan RI tahun 1945. Ironi memang bila kita lihat dengan keadaa kita saat ini. Ketika merdeka sudah di tangan rasanya tidak ingin untuk melihat kebelakang dan mengetahui proses perebutan kemerdekaan ini.

Wah, jadi lu main ke museum? Dahsyat! l iya dong karena gue pengen tau secara jelas sejarah kota tercinta ini #tsaahhh

Banyak hal yang baru saya ketahui ketika saya mendapat arahan dari pemandu Museum Perjoangan ini mulai dari asal bangunan ini milik siapa, mengapa jalan tempat museum ini berada di sebut Jalan merdeka, senjata apa saja yang mereka gunakan saat berperang dengan tentara sekutu, dimana mereka berlindung sampai bagaimana mereka sangat dihormati dan dijunjung tinggi pada masanya. Semua hal yang saya ketahui itu membuat dada saya bergejolak dan seketika merasa bersalah karena begitu mendambakan hal lain dari negara sekutu.

Coba dong, Dell ceritain lebih jelas l oke!

Jalan dimana Museum Perjoangan itu berdiri adalah Jalan Merdeka dimana sepanjang jalan tersebut memiliki sejuta cerita tentang perjuangan para pejuang bangsa. Banyak tumpah darah yang direlakan oleh para pejuang demi mengusir para sekutu dari kota ini. Kapten Muslihat adalah salah satu pejuang bangsa yang merelakan nyawanya. Beliau meninggal dengan luka memangjang dari perut hingga dada sebelah kanan (kalau tidak salah) hingga darahnya bercucuran di sepanjang jalan merdeka di atas jembatan yang saat ini jembatan tersebut diberi nama jembatan merah.

Oh ih sedih banget yah 😦 ? l iya memang apalagi senjata yang digunain sekutu lebih canggih dari bambu runcing milik mereka 😦

ini adalah senjata yang digunakan oleh sekutu yang bisa menghancurkan lebih banyak manusia dibanding menggunakan pistol biasa

Dua senjata ini bagian dari senjata-senjata asli lainnya yang merupakan koleksi dari Museum Perjoangan. Mereka menggunakannya untuk dapat membunuh para pejuang yang mencoba untuk mengusir mereka dari kota Bogor. Lalu yang digunakan oleh para pejuang untuk membalas semuanya hanya menggunakan pistol biasa dan bambu runcing tradisional seperti yang digunakan oleh pejuang-pejuang lainnya di penjuru daerah. Namun karena semangat membara yang mereka miliki semua itu tidak membunuh rasa ingin terus mengusirnya. Walaupun kekalahan sempat mereka terima tetapi pada akhirnya perjuangan yang mereka berikan berbuah manis dengan kemerdekaan yang ada saat ini.

Uh, pengen deh jadinya dateng ke Museum Perjoangan l iya lu dateng langsung aja kesana soalnya banyak koleksi sejarah yang ada di museum ituoh ya? ada apa aja ada ini nih …

surat kabar 


Telepon antik


Pakaian polisi yang masih terdapat noda merah walaupun tidak secara jelas tergambar pada foto ini

Memang benar apa yang dikatakan oleh Alm. Ainun bahwa banyak cara untuk dapat mencintai negeri ini. Walau banyak koruptor yang dihukum tidak sebanding dengan perbuatannya, narkoba dengan mudah ditemukan, kemiskinan yang sulit diselesaikan dan masih banyaknya warga di Indonesia yang merasakan kelaparan. Semua hal ini bisa kita atasi bila kita memiliki jiwa nasionalisme seperti para pejuang yang mampu merebut kemerdekaan dari para sekutu. Semoga semakin banyak pejuang muda yang mampu menyelesaikan semua ini dan semoga kita menjadi salah satu dari bagian pejuang itu 🙂
Advertisements