The Winner of WorldPress 2013

Just found this photo from the online newspaper Tempo.Co 
Paul Hansen who captured this photo entered the photography contest of world press 2013
I feel so blue when I saw this photo from Tempo.co. Be calm my dear in Gaza, Palestine and keep strong and always believe that Allah is always there beside you all 🙂

Banjir itu datang lagi

Di sejumlah media cetak menyatakan bahwa banjir yang terjadi di daerah Jakarta dan sekitarnya dikarenakan air kiriman dari Bogor. Well, hal itu memang benar jika kita lihat dari letak Kota Bogor yang jauh lebih tinggi dibanding Jakarta sehingga kita dapat memakai ilmu yang didapatkan semasa Sekolah Dasar dulu bahwa salah satu sifat air adalah air mengalir dari permukaan yang tinggi ke permukaan yang rendah. Akan tetapi konteks pemberitaan yang ada malah mengkambing hitamkan Kota Bogor yang juga kota hujan sebagai penyebab dari banjir yang terjadi di daerah Jakarta dan sekitarnya. Aneh bukan? Lalu jika memang Bogor itu kota hujan dan curah hujan semakin tinggi saat musim hujan tiba sebenarnya mereka akan menyalahkan siapa? Apakah mereka akan terus menyalahkan kodrat yang ada dan selalu lempar batu sembunyi tangan setiap banjir mendatangi mereka? Setelah itu apakah mereka tidak melakukan perubahan baru dalam hidupnya agar dapat mengantisipasi banjir yang datang?

Such a fool….

Oke kita mulai dari hal yang paling sederhana namun sangat klise untuk dibahas. Pernah tidak kalian melihat sungai yang ada di Bogor terlihat bersih dari sampah? Tidak, tentu saja! Pernah kalian lihat di tv atau di media lainnya atau melihat secara langsung sungai yang ada di daerah Jakarta pun terbebas dari sampah? Tidak! Masih kurangnya kepeduliaan masyarakat akan kebersihan merupakan salah satu penyebab terjadinya banjir di Jakarta dan sekitarnya. Sejenak mari kita lupakan tentang berubahnya ruang terbuka hijau di Jakarta yang menjadi kawasan pembangunan yang  kemudian menyebabkan kurangnya resapan air sehingga air meluap ke jalanan kota atau tidak berfungsinya waduk dan situ yang berada di daerah sekitar Jakarta karena kedua hal tersebut merupakan bagian yang sulit untuk dilakukan oleh orang yang seperti kita (saya tepatnya) yang kurang pengetahuan untuk ikut serta mengoptimalkan resapan air sebagaimana mestinya.
Ciyee Della merendah… l emang gitu ih masa anak komunikasi pengembangan masyarakat mesti ngomongin pembangunan bangunan yang kaitannnya ama kurangnya resapan air. Kalau cuma sekedar bagi info sih mungkin bisa yah tapi untuk ngebahas mah gue ga berani ah.. l widddiih iya Del seloooww wkwkwk

Sampah yang menggunung di Manggarai
Bisa kita lihat pada gambar di atas bahwa petugas menggunakan alat berat untuk membersihkan sampah-sampah yang menggunung di daerah Manggarai. Pembersihan ini dilakukan untuk mencegah penyumbatan yang dapat menyebabkan banjir di daerah Jakarta dan sekitarnya. Coba bayangkan jika sampah itu tidak sebanyak seperti ini mungkin air akan mengalir dengan lancar ke permukaan tanah atau mengalir kedalam selokan-selokan yang juga tidak tersumbat dan tidak menjadi meluap ke permukaan jalan raya beraspal.

Hiiii. Serem Della lbangeeettt deh!

Pernah tidak terlintas dipikiran kalian sekalian ketika membuang sampah bukan pada tempatnya akan merugikan banyak orang? Atau Pernah tidak kalian merasa kasihan kepada orang-orang yang merasa dirugikan tersebut? Kalau kalian masih belum peka terhadap lingkungan sekitar mari sama-sama dibiasakan untuk melakukan hal yang banyak disepelekan oleh orang-orang namun memiliki dampak yang cukup besar untuk kedepannya. Mari kita sadar diri ketika ingin melakukan salah satu perbuatan yang dibilang tercela jika kita ingat kembali pelajaran PKN di masa SD. Memang teori itu selalu lebih mudah jika dibandingkan dengan praktiknya. Silahkan kalian lihat di hasil laporan pelajaran (raport) SD untuk pelajaran PKN pasti kalian mendapat nilai yang tinggi bukan? Kenapa bisa tinggi seperti itu karena teori dari pembelajaran moral PKN sangat mudah untuk diketahui namun sangat sulit diterapkan.

Della kenapa sih bahas ini? Serem ih udah nyindir gitu l ada seseorang yang menangis di luar sana ketika mereka tidak dapat merasakan tidur di kasur yang empuk ketika banjir itu datang

Ya benar saya membahas hal ini karena beberapa teman saya yang tinggal di daerah Jakarta dan sekitarnya mengalami musibah banjir beberapa waktu lalu. Bahkan kakak saya sendiri yang bekerja di daerah sekitar Bundaran HI pun mengalami banjir cukup tinggi mulai dari kosannya di Jalan Kacang hingga jalan menuju kantornya di The Plaza. Hal ini membuat saya cukup sedih sebagai salah seorang yang dekat dengan mereka. Padahal dulu semasa saya bersekolah, saya cuek kepada orang-orang yang mengalami musibah banjir di daerahnya, yaah karena di kota pemilik curah hujan tertinggi ini tidak pernah banjir separah yang dialami di Jakarta dan sekitarnya  dan juga pembicaraan yang kami bicarakan ketika musim banjir tiba tidak seheboh ketika saya sudah di perguruan tinggi. Namun kini saya berada di kelompok orang yang beragam mulai dari Sumatra hingga Papua yang juga memiliki kultur dan ekosistem yang berbeda yang dapat membuat saya lebih bersimpati apabila ada suatu hal yang menyangkut kota kelahiran mereka. Ada satu cerita yang membuat hati saya sedih ketika salah satu teman saya harus kehilangan kamera dan leptop karena terendam banjir di rumahnya dan sebenarnya banjir yang datang itu ketika curah hujan sudah reda namun permukaan air di sungai di daerah bekasi tersebut masih tinggi dan tanggul penahannya bocor yang kemudian menyebabkan sedikitnya 1300 rumah terandam di Jati Asih, Bekasi. Disini saya merasa bahwa ternyata rasa peduli akan  tinggi apabila kita merasakan bahwa kita merupakan bagian dari mereka, apabila kita ingin ikut serta merasakan duka mereka, dan apabila kita peduli kepada mereka.  

Ih iya yah Del, gue juga ngerasa gitu loh l yuuppsss

Jadi ketika kita ingin membuat perubahan untuk Jakarta yang lebih baik seperti tidak membuang sampah sembarangan mungkin bisa dimulai dari menjadikian diri kita bagian dari mereka dan juga untuk mereka yang terkena musibah banjir juga harus membiasakan hidup bersih karena mungkin mereka yang juga sebenarnya turut serta dalam hidup tidak bersih dengan menyumbat aliran air selokan atau sungai dengan sampah-sampah yang mereka hasilkan. Saling mengingatkan itu baik dan semoga bermanfaat dan tergerak hatinya.

Quality time with my ladies

Ternyata memang waktu yang kita miliki itu sangat berharga jika dibandingkan dengan apa pun. Sekali lagi saya menyesali ketidakmampuan saya dalam memanajemen waktu bahkan hanya untuk sekedar berbagi cerita dengan orang-orang di sekitar saya. Setelah selama empat bulan yang lalu saya terlalu sibuk dengan kegiatan kepanitian yang saya ikuti, pada akhirnya hari ini kami bisa berkumpul untuk saling berbagi cerita dan melakukan hal-hal konyol yang jarang kami lakukan ketika berada di kawasan sekitar kampus. Tidak dapat kami bayangkan bagaimana kehidupan kami di semester 4 mendatang dengan jadwal kuliah yang padat yang dapat menyita waktu kami untuk melakukan ritual penting, yaitu bergosip. Yaa.. sebagai penyegar hati seperti biasa kami selalu berkata udah sih selow masih satu kampus dan satu departemen ini pasti gampang ketemu kok’ 


tapi kenyataannya ga kayak gitu loh~

Hidup hanya sekali dan masa muda tidak akan kembali. So, lakukan apa yang kamu suka selagi hal itu tidak merugikan dirimu dan juga tidak menyita waktumu dengan orang di sekitarmu 😉
kurang Citra yah? l Iya nih dia sudah menjadi semakin sibuk hahah yaa sama lah kayak cerita gue di atas ppfftt

Suatu yang Hilang di Jogjakarta


Jogjakarta memiliki tempat tersendiri di hati setelah kota kelahiran saya, Bogor. Alasan mengapa saya jatuh hati pada kota ini adalah karena adanya rasa penasaran yang timbul ketika saya melihat berbagai cerita mengenai Jogja dari berita wisata di TV dan juga dari kehidupan-kehidupan tokoh  FTV.
wiiihh, terus terus? Kok Aneh juga yah alesannya 😀 l simak aja ceritanya 😀
Menurut informasi yang saya dapat ternyata Jogjakarta merupakan provinsi tertua kedua setelah Jawa Timur di Indonesia ini. Gelar istimewa yang dimiliki oleh kota pelajar ini berkaitan dengan sejarah terbentuknya provinsi tersendiri yang terdiri dari gabungan wilayah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Akan tetapi kali ini saya tidak akan bercerita tentang sejarah dari Jogjakarta melainkan tentang pengalaman yang saya dapat ketika mengunjungi kota yang menurut saya romantis ini sebanyak dua kali. 

 
Tugu Jogja yang merupakan landmark dari kota Jogjakarta (saya dapatkan dari blog sebelah)
Tahun 2010 merupakan tahun pertama saya mengunjungi kota Jogjakarta. Kesempatan itu datang ketika sekolah saya mengadakan karyawisata yang juga bagian dari perpisahan teman-teman kelas XII ke daerah Jogjakarta. Begitu saya mendengar tentang pengumuman itu saya senang bukan kepalang karena selama 17 tahun itu saya belum pernah untuk keluar dari Jawa Barat bahkan untuk sekedar menikmati liburan sekolah. Kami siswa kelas XII IPA A membuat banyak rencana hal apa saja yang akan kami lakukan di Jogja ketika telah sampai disana. Kami merencanakan akan memakai baju apa ketika berangkat, makanan apa saja yang akan kami bawa, berapa jumlah uang yang akan kami habiskan, sampai berapa potong baju yang akan memenuhi tas bawaan kami ke Jogja nantinya. Namun, ada suatu hal yang menghalang kepergian kami yaitu ada salah seorang teman kami yang tidak dapat mengikuti bagian dari acara perpisahan ini karena masalah uang. Kami mengadakan rapat sepulang sekolah setelah mengetahui masalah tersebut dan kemudian hasil dari rapat tersebut adalah kami diwajibkan untuk menyumbang seikhlasnya agar dapat membantu teman kami tersebut untuk mengikuti kegiatan karyawisata yang pertama dan terakhir selama tiga tahun kami di SMA Negeri 5 Bogor. 
Wahhh akhirnya yah lu bisa jalan-jalan juga ke Jogja subhannallah yah :’)
Butuh waktu sekitar (kurang lebih) 12 jam untuk dapat sampai Jogja menggunakan angkutan darat. Saat itu sekitar delapan bus yang diberangkatkan menuju Jogja untuk keperluan karyawisata yang di setiap busnya itu terdapat guru pembimbing untuk dapat menemani kami di perjalanan. Selama perjalanan tersebut tak berhenti mata saya ditakjubkan oleh keindahan alam yang ada seperti sawah-sawah dengan terasering yang begitu rapi, hutan berpohon tinggi yang sedikit mengerikan memang, sungai yang mengalir deras, sampai adanya rel kereta api yang begitu tinggi diantara tebing-tebing yang di bawahnya terdapat sawah hijau. Tidak ada rasa capek selama perjalanan karena kami selalu membaginya dengan keceriaan dan penuh tawa
Di perjalanan

Selama kegiatan karyawisata kami berkesempatan untuk mengunjungi situs candi Borobudur yang berada di Megelang. Candi Borobudur ini merupakan candi Buddha yang dibangun saat masa pemerintahan Syailendra. Bangunan yang begitu megah dangan berbagai ukiran di sepanjang batu yang ada di dalamnya merupakan salah satu bentuk daya tarik pengunjung yang datang. Hijaunya pepohonan di sekitar candi membuat suasana menjadi lebih sejuk dan terasa sangat nyaman untuk berada di kawasan candi dalam waktu yang cukup lama. Tempat yang sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah bagi agama Buddha ini memberikan banyak cerita bagi mereka yang mengunjunginya. Berbeda dengan candi yang berada di sekitar Candi Borobur, candi ini berada di atas bukit yang di bawahnya juga ternyata terdapat danau purba yang telah mengering. Tempat yang paling ramai dikunjungi oleh wisatawan adalah bagian paling atas atau disebut Arupadatu. Arupadatu ini terdapat 72 stupa yang melingkar (karena menurut Wikipedia bagian Arupadatu ini berbentuk lingkaran). Arupadatu yang berarti tidak berwujud ini menjadi tempat kami mengabadikan momen melalui foto-foto yang dihasilkan. Sungguh luar biasa mereka yang mampu membangun candi sebesar dan semegah ini padahal pada zaman itu peralatan untuk membawa batu pun belum ada. 

Jadi bagian termudah dari kita adalah menjaga dan melestarikannya untuk anak cucu kita di kemudian hari yah 😀


Setelah itu tempat yang saya kunjungi dan tidak kalah akan cerita sejarahnya adalah Kraton Jogja. Kraton Jogja ini merupakan tempat tinggal dari raja dan para keluarganya. Sebelum memasuki Kraton Jogja ini kita harus membeli tiket pada dua loket yang telah disediakan. Disana kita dapat melihat aktivitas yang dilakukan oleh para abdi dalem, melihat megahnya bangunan-bangunan yang biasa digunakan para raja dan juga kita dapat melihat koleksi-koleksi yang disimpan baik di dalamnya. Saat itu saya merasakan benar-benar seperti sedang berada pada masanya. Para abdi dalem yang kemudian kami ajak untuk mengobrol itu ternyata dilahirkan dan tinggal di kawasan sekitar Kraton Jogja ini.

Bersama para adbi dalem Kraton Jogja

Tempat berikutnya yang saya kunjungi adalah salah satu goa yang berada di daerah Kebumen, Jogja yaitu Goa Jatijajar. Disana terdapat banyak pohon besar untuk mencapai goa tersebut dan juga jalan yang berbatu membentuk tangga saat kita akan memasukinya. Dari luar, goa tersebut sangat besar dan terlihat sangat gelap walaupun terdapat beberapa lampu sebagai penerangan untuk wisatawan membaca papan pengumuman yang ada. Di dalam goa itu terdapat banyak patung seperti patung kera yang menghadap ke arah pintu masuk dan juga patung berbentuk manusia. Ternyata goa ini merupakan tempat yang ramai juga dikunjungi oleh para wisatawan yang datang dari berbagai daerah. Apabila kita terus menyusuri jalannya ke arah bawah kita akan menemukan air yang berasal dari sungai mawar. Air tersebut diyakini dapat membuat wajah kita awet muda apabila kita mambasuh di tempatnya langsung, maka tak heran banyak wanita seperti saya yang salah satunya yang juga ikut mengantri untuk membasuh muka untuk membuktikan mitosnya dikemudian hari :D. Sebenarnya masih ada beberapa sungai lainnya yang terdapat di dalam goa jatijajar namun saat itu kami hanya mengunjungi satu sungai saja.

Foto bersama patung kera 😀

Foto di dalam Goa Jatijajar
Yaa itu adalah tempat-tempat yang saya kunjungi ketika saya berada di Jogja untuk pertama kali.
Ih asik banget, Dellaaaa! Tapi sayang yah cuma sebentar elu disana   l  gak apa apa kok kan seenggaknya tahun 2012 kemarin gue ke Jogja lagi ada acara keluaraga 😀
Horee Jogja lagi 😀
Bulan July 2012 kemarin keluarga saya mengadakan acara keluarga di daerah Jogja bagian kota. Tidak ada kesempatan berpikir kembali ketika saya sudah memegang tiket pesawat menuju Jogja bersama ibu dan nenek saya. Saat itu mahasiswa IPB sedang menempuh UAS dan di hari terakhir setelah saya menyelesaikan ujian matakulian Belajar dan Berpikir Ilmiah saya lagsung pergi menuju bandara. Di perjalanan menuju bandara perasaan saya bercampur aduk antara takut akan menaiki pesawat untuk pertama kalinya dan senang karena dapat bertemu Jogja kembali yang memberikan banyak cerita di masa SMA.

percaya atau tidak ini pertama kalinya gue naik pesawat terbang loh 😀


Kalau dulu saya mengunjungi berbagai tempat wisata nah untuk kunjungan yang kedua saya hanya berada di kawasan Kraton Jogja saja. Tempat yang paling menarik saya kunjungi saat itu adalah Taman Sari Jogjakarta dimana taman tersebut merupakan situs bekas taman atau kebun kerajaan yang di dalamnya terdapat beberapa kolam pemandian yang digunakan oleh para putri raja. Ada empat bagian yang terdapat di kawasan Taman Sari Jogjakarta itu.  Bagian pertama yang konon dahulu digunakan sebagai tempat beristirahat oleh raja dan kelurganya juga merupakan bagian yang paling eksotis pada zamannya karena terdapat danau buatan yang di dalamnya terdapat berbagai jenis ikan. Bila kita menusuri lebih jauh kita akan masuk ke bagian kedua yang didalamnya terdapat pot-pot besar dan kolam pemandian. Bagian kedua ini merupakan bagian yang lebih banyak dikunjungi oleh para wisatawan. Nah bagian ketiga dan keempat ini sudah tidak memberikan banyak bekas yang dapat dinikmati oleh para pengunjung.

Taman Sari Jogjakarta
Selain itu bagian yang paling menarik ketika mengunjungi Jogjakarta untuk kedua kalinya adalah saya dapat menikmati kehidupan malam minggu di alun-alun Jogjakarta. Alun-alun yang begitu ramai biasanya hanya bisa saya nikmati di FTV yang saya tonton tapi kali itu saya merasakannya sendiri. Saya merasakan keramaian yang ada seperti banyaknya para kawula muda yang berbagi kasih, banyaknya sekumpulan anak muda yang bermain dengan sepeda milik mereka dan juga melihat anak kecil yang berlari-larian sambil bermain alat permainan yang di jual di sekitar alun-alun (saya lupa jenis permainannya). Sungguh tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata ketika saya menjadi bagian dari mereka dan menikmati angkringan yang ada di pinggir alun-alun. Sepulang dari alun-alun itu saya diberi tantangan untuk dapat melewati dua pohon beringin yang besar di tengah alun-alun dengan mata tertutup. Mereka percaya bila kita dapat melewatinya maka permohonan yang kita inginkan dapat terwujud secepatnya. Dan saya mencobanya tentu saja. Walaupun gagal tapi hal itu membuat saya ingin dan ingin untuk datang terus ke Jogja.
Ih terus apalagi? l belanja ke Malioboro, jalan-jalan naik becak malem-malem sama keliling Jogja naik mobil saudara akyu~ l Teruuuss?l udah deh pulang l yaaaah
Pada akhirnya kota yang lebih sering saya lihat di layar kaca sudah saya taklukan walaupun belum semua tempat saya kunjungi, tapi percayalah setiap saya mengunjungi Jogjakarta pasti ada hal yang hilang dalam diri saya. Ya benar! Kehilangan kesempatan untuk lebih lama berada di Jogjakarta. Akan tetapi bukan berarti saya ingin tinggal dan menetap di daerah Jogja karena akan lain rasanya apabila saya selalu berada di dalamnya. Sudah saya siapkan hal yang hilang tersebut ketika akan datang kembali dan hal tersebut akan hilang lagi saat saya pergi. Yuk, mari menabung untuk mengunjungi Jogja dan daerah sekitarnya 😀