Jatuhnya Soeharto dan Transisi Demokrasi Indonesia

Judul buku: Jatuhnya Soeharti dan Transisi Demokrasi Indonesia
Penulis: Denny J.A
Penerbit: LKis
Tahun terbit: 2006
Jumlah halaman: 124 Halaman


Banyak hal yang perlu diperbaiki setelah jatuhnya rejim di masa Soeharto. Masa transisi demokrasi Indonesia mengaruskan adanya suatu perubahan politik. Perubahan politik tersebut dapat terjadi melalui tiga proses yang saling berbeda satu sama lain, yaitu perubahan melalui reformasi, revolusi ataupun involusi. Ketiga perubahan itu memiliki kesempatan yang sama untuk mengubah Indonesia pada masa muram itu.

Jatuhnya Soeharto dimulai dari permasalahan krisis ekonomi yang kemudian membangunkan kembali gerakan mahasiswa seperti pada awal masa Orde Baru tahun 1966. Bukan hanya itu yang kemudian membangunkan gerakan mashasiswa Indonesia, namun pemerintahan rejim Soeharto memberikan ketidakpuasan di kalangan masyarakat luas. Maraknya gerakan mahasiswa itu kemudian menyebabkan kerusuhan di pertengahan Mei 1998. Banyak sarana dan prasarana milik negara dan juga pribadi yang rusak. Mereka yang terlibat dalam kerusuhan itu bukan lah hanya mahasiswa dari seluruh Indonesia namun para oknum lain yang mengambil kesempatan untuk melakukan kegiatan tidak tercela seperti membakar gedung-gedung perkantoran serta melakukan penjarahan di Ibu kota. Penulis memaparkan bahwa turun tahtanya Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 sangat menggemparkan berbagai media massa di seluruh dunia, seperti New York Times yang memberitakan tentang mundurnya penguasa di masa Perang Dingin dan CNN yang selalu membahas berita itu secara terus menerus dalam waktu yang cukup lama. Setelah jatuhnya rejim Soeharto menyebabkan adanya masa transisi yang labil di Indonesia. Saat itu Indonesia sedang kebingungan arah, apakah akan kembali pada masa otorianisme atau berubah pada arah demokrasi. Para pemerintah didalamnya tidak ingin gegabah untuk melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya jika mereka kembali pada masa otorianisme tetapi mereka pun tidak yakin akan perubahan arah menuju demokrasi.

Golongan Karya (Golkar) partai politik dibawah naungan Soeharto kemudian berbenah diri. Golkar ingin memutuskan hubungan dengan masa lalu ketika mereka sedang berada di atas angin, karena saat itu mereka terpuruk atas permasalahan yang menimpa segalanya. Walaupun dahulu partai ini besar karena nama Soeharto namun untuk tetap mempertahankan keeksistensian di kancah politik negeri mereka rela untuk memputuskan segala hubungan yang berkaitang dengan Soeharto. Kemudian Akbar Tadjung dipilih untuk menggantikan Soeharto sebagai ketua umum Golkar. Atas kemenangan Akbar Tandjung ini Golkar berharap mereka dapat memenangkan kembali kursi pemerintahan Indonesia seperti masa sebelumnya. Bukan hanya Golkar yang kemudian maju untuk merebut kembali tahta itu tetapi banyak partai politik yang kemudian hadir untuk turut serta meramaikan pesta demokrasi pemilihan umum di tahun 1999. PDI Perjuangan merupakan salah satu partai politik yang akan bersaing dengan Golkar pada pemilihan umum 1999. Langkah awal PDI Perjuangan adalah dengan dilakukannya konsolidasi PDI Perjuangan di Bali awal Oktober 1998. Saat itu Megawati tidak sekedar dikukuhkan menjadi ketua umum, namun ia semakin bervolusi menuju pemimpin yang kharismatik. Megawati maju tentu tidak dengan tangan kosong, beliau telah mempersiapkan senjata dengan mewakili misi ekonomi reformasi dan membawa perubahan mendasar dalam kelompoknya yang populistik. Populisme Baru merupakan sesuatu hal yang sedang berkembang di negara Amerika Latin dan hal tersebut merupakan senjata yang beliau bawa untuk bertarung dikemudian hari.

Staretegi yang digunakan dalam penarikan massa yang dilakukan oleh sejumlah partai politik adalah dengan melakukan komunike bersama antar partai. Tiga partai dengan jumlah massa yang besar, PDI Perjuangan, PAN, dan PKB membuat komunike bersama. Respon publik pun sangat antusias karena mereka merasa ketiga partai ini cocok untuk berkoalisi satu sama lain. Jika kita telaah dari hasil survey yang dilakukan sebelum pemilihan umum 1999 ini dimulai, diperkirakan bahwa tidak ada partai yang menang secara dominan di atas 50%. Hal ini disebabkan berbagai partai politik yang ada sudah memiliki ancang-ancang yang baik sehingga membingungkan publik untuk memilih yang terbaik dari yang terbaik. Bukan hanya partai yang bersifat umum (partai terbuka) saja yang mengincangkan ikat kepalanya, namun partai islam yang ada di Nusantara pun tidak ingin kalah menunjukan keeksistensiannya di dunia politik. Para pendiri dari partai islam itu sendiri merasa yakin bahwa mereka dapat memenangkan pemilihan umum di tahun 1999. Ternyata setalah melakukan survey, negara yang mayoritas beragama islam tidak sepenuhnya mendukung partai-partai yang bergerak atas nama islam, karena mereka berendapat bahwa Pancasila bukan hanya milik islam tetapi milik seluruh rakyat Indonesia. 

Sepertinya selalu saja adalah yang salah dari proses yang dilakukan oleh perangkat negara Indonesia. Salah satunya adalah kurangnya partai politik dalam memberi tempat bagi para pemilih rasional. Kampanye yang berlangsung sebelum pemilihan berlangsung itu lebih mirip degan karnaval. Sosialisasi isu strategis yang diperjuangakan partai ke khalayak tidak menonjol. Pemilih rasional merasa kesulitan ketika membedakan platform, bahkan kalau diminta membedakan platform hanya lima partai terbesar saja. Pada akhirnya pemilihan umum berlangsung ternyata Golkar masih menarik perhatian penduduk Indonesia, yang pada akhirnya Golkar menempati posisi kedua setelah PDI Perjuangan. Dibandingkan partai lain, basis massa dan platform PDI Perjuangan dan Golkar sangatlah dekat. Mereka sama-sama berbasiskan massa yang plural dan assas kebangsaan. Namun, disini Indonesia memerlukan pemerintahan yang baru dan kuat. Siapakah yang lebih baik dalam membangun Indonesia kedepannya? Apa yang akan terjadi kedepannya? Apa yang telah mereka capai apakah akan terus diperjuangkan atau disia-siakan?

Dalam buku karangan Denny J.A ini kita dapat melihat perjuangan perebutan kembali kekuasaan dari tangan rejim Orde Baru. Disini penulis mampu membandingkan keadaan negara Indonesia saat itu dengan negara-negara lainnya sehingga kita dapat mengetahui lebih kurangnya keadaan politik di negeri pertiwi ini. Politik kerusuhan Mei 1998 yang membahas mengenai literature ilmu politik yang menyediakan jawaban atas terjadinya perubahan gerakan politik di masa itu. Penulis juga mampu memberikan pandangan menarik atas isu-isu yang terjadi selama masa pemilihan umum 1999. Banyak hal yang kita dapatkan dari buku tentang jatuhnya Soeharto ini. Semua diungkap secara ringkas mengenai sejarah politik dan ekonomi negeri pertiwi. Namun, dalam buku yang juga membahas mengenai transisi demokrasi Indonesia ini tidak memberikan data-data yang akurat karena kurangnya data yang didapat dari media massa di saat itu yang dapat menguatkan isi dari buku itu sendiri.

Setelah membaca buku tentang sejarah dalam perebutan kemerdekaan didalam kemerdekaan ini saya dapat merasakan gejolak mahasiswa di tahun 1998. Mahasiswa sebagai penerus bangsa dikemudian hari tidaklah salah untuk melakukan itu semua, karena jika kita tidak melakukannya dan kemudian berbuat hal yang sama buruknya dengan pendahulu kita maka dapat dipastikan negara ini akan semakin bobrok. Pada tulisan ini ingin saya ucapkan terima kasih kepada para pejuang mahasiswa dari seluruh Indonesia. Bangsa yang hebat adalah bangsa yang mampu menghargai sejarahnya. Hidup Mahasiswa! Semoga semakin Berjaya dalam membela semua kebenaran yang ada J

Pengembangan Masyarakat Berbasis Ekosistem

PENDAHULUAN
Ekosistem merupakan suatu kesatuan tatanan yang terbentuk oleh interaksi (hubungan)timbale balik antara makhuluk hidup (hayati) dengan unsur-unsur non-hayati dalam suatu wilayah. Biasanya yang menjadi ukuran dari suatu wilayah adalah area dengan karakteristik tertentu yang membedakan dengan area-area lainnya, seperti wilayah pedesaan, perkotaan, pedalaman, pesisir, pegunungan, pinggiran, dan lain sebagainya. Sehingga perbedaan dari wilayah-wilayah ini menyebabkan terjadinya ketidaksamaan dalam hal ekosistem, Manik (2003). Manusia sebagai unsure biologis dalam memenuhi kebutuhan hidupnya harus berinteraksi dengan unsur-unsur yang hidup (hewan, tumbuhan) dan juga dengan unsur-unsur tidak hidup (air, udara, tanah) yang mana interaksi dengan kedua unsur tersebut dapat menciptakan suatu kebudayaan diantara manusia itu sendiri. Ekosistem bukan dipahami sebagai faktor tunggal, tetapi sebagai satu-kesatuan dari berbagai elemen yang membentuk ekosistem. Dalam pengembangan masyarakat keterkaitan antara komponen tersebut dijadikan penciri khas dari masyarakat tersebut.
Efektivitas Kelembagaan Partisipatoris di Hulu Daerah Aliran Sungai Citarum[1]
Padatnya pemukiman di sepanjang DAS Cikapundung membuat Sungai Cikapundung tercemar. Selain itu adanya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA Bengkok) menghasilkan sedimentasi yang dialirkan ke Sungai Cikapundung membuat Sungai Cikapundung semakin keruh dan dangkal dengan banyaknya jumlah pasir serta lumpur. Langkah awal untuk mengatasi kerusakan DAS dengan membentuk gerakan masyarakat untuk bersama-sama melestarikan dan menjaga ekosistem DAS dan sebagai wadah yang dapat menampung aspirasi dan koordinasi dalam mengelola DAS. Akhirnya munculah komunitas-komunitas pegiat lingkungan seperti CAMEL dan CRP kegiatannya berhubungan dengan lingkungan khususnya peyelamatan Sungai Cikapundung. Komunitas inilah yang akhirnya menginisiasi komunitas lain dan mempersatukan warga agar peduli terhadap kelestarian Sungai Cikapundung yang telah mengalami kerusakan. Pada triwulan pertama (tahun 2008) sebelum diadakannya kegiatan penyelematan Sungai Cikapundung kualitas airnya dinyatakan dalam keadaan buruk, hal ini dikarenakan banyaknya limbah rumah tangga dan industri. Pada triwulan kedua (tahun 2009) setelah komunitas CRP melakukan kegiatan pembersihan sungai, maka kualitas Sungai Cikapundung membaik karena berkurangnya volume sampah. Namun pada triwulan ketiga (tahun 2010) setelah dibukanya peternakan sapi di hulu sungai, kualitas air dinyatakan lebih buruk dibandingkan dengan kualitas air pada triwulan pertama, sungai menjadi tercemar oleh adanya bakteri E. Coli. Komunitas-komunitas rutin melakukan pembersihan guna mengurangi pencemaran selain itu mereka melakukan aksi tanam pohon, pengelolaan limbah organik dan non organik, dll. Pemerintah juga berperan dalam penyelamatan, melalui kebijakan rehabilitasi dan pencegahan kerusakan Sungai Cikapundung. Swasta khususnya pengelolaan air minum PDAM juga berperan untuk mencegah warga mencemari sungai karena mereka punya kepentingan untuk mengelola air sungai tersebut. Ditambah lagi munculnya berbagai komunitas yang peduli dan melakukan aksi nyata untuk menyelamatkan sungai Cikapundung. Sinergi antar ketiganya memberikan hasil yang positif dengan membaiknya kondisi sungai Cikapundung.
KonversiLahan Hutan Mangrove SertaUpaya Penduduk LokalDalam Merehabilitasi EkosistemMangrove[2]
Ekosistem bakau memiliki beragam manfaat dari segi ekologi ekositem mangrove menjadi daerah utama penghijauan pesisir pantai dan sebagai pembatas daerah pantai dengan laut. Daerah mangrove menjadi merupakan daerah pemijahan (spawning ground), daerah asuhan (nursery ground) dan daerah mencari makan (feeding ground).Manfaat sosial adalah dapat digunakan sebagai pemukiman penduduk dan peruntukan kemaslahatan manusia lainnya. Berbagai manfaat bakau banyak dimanfaatkan oleh penduduk antara lain untuk arang, kuliner, dan daerah tambak. Seperti yang terjadi di Desa Karangsong, Kabupaten Indramayu dimana masyarakat sudah banyak memanfaatkan lahan hutan mangrove untuk kegiatan ekonominya. Tanah timbul disekitar hutan mangrove telah banyak mengalami pergeseran fungsi dari ekologis menjadi fungsi ekonomi masyarakat. Masyarakat telah mengkonversi lahan-lahan tersebut menjadi tambak ikan. Terdapat dampak positif dan negatif dari usaha konversi tersebut karena adanya perubahan ekosistem yang terjadi pada hutan mangrove. Dalam sisi positif masyarakat memiliki lapangan pekerjaan baru sebagia penambak ikan bandeng dan udang. Konversi lahan dimulai ketika para pendatang dari daerah Losari Kabupaten Cirebon datang ke daerah ini, mereka mulai melirik sumberdaya yang belum tersentuh oleh masyarakat dan mulai melakukan konversi kecil-kecilan. Akhirnya tindakan mereka mlai diikuti oleh penduduk lokal, mencoba peruntungan baru. Sebelumnya mereka bekerja sebagia nelayan dan petani sawah tadah yang hanya berproduksi ketika hujan turun. Dampak negatifnya adalah masyarakat yang kurang pengetahuan dan melakukan konversi secara besar-besaran itu  telah merusak ekosistem hutan mangrove. Mereka mengalami kesulitan dalam melakukan budidaya dalam tambakanya antara lain karena fauna dan mikroorganisme alami pakan ikan telah hilang maka mereka harus menyediakan pakan buatan dan tambak disekitar bibir pantai rawan terkena abrasi laut karena tidak ada lagi mangrove sebagai penghalang yang melindungi tambak-tambak mereka. Melihat permasalahan itu  maka ada sebuah LSM yang menawarkan kerjasama dengan masyarakat ntuk merehabilitasi ekosistem mangrove disana dengan membentuk Kelompok Pelestari Lingkungan (Kelopak) pada tahun 1998 melalui persemaian di lahan tambak sewaan milik petani tambak. Namun setelah proyek dari Wetlands selesai, Kelopak mulai pasif sehingga pada tahun 1993. Akhirnya dengan inisiatif 5 orang warga akhirnya terbentuk lagi Kelompok pantai Lestari. Kelompok itu meruapaknan kelompok bentukan dari inisiatif warga masyarakat. Kelompok juga telah berkeja sama dengan instansi-instansi terkait dalam penyediaan bibit, dana maupun pelatihan pengelolaan mangrove. Keberhasilan kelompok ini dalam usaha pelestarian mangrove diapresiasi pemerinath dengan menjadikan daerah ini sebagai daerah percontohan . pencapaian ini bukan tanpa halangan karena ternyata partisipasi amsyarakat masih terbilang rendah karena masih berorientasi pada manfaat jangka pendek dalam bentuk keuntungan ekonomi yang mereka dapatkan ketika menjadi kuli penanan ketimbang manfaat jangka panjang untuk lestarinya lingkungan. Permasalahn ini timbul karena belum adanya pengetahuan warga tentang manfaat mangrove bagi ekosistem.
PEMBAHASAN
Ekosistem juga merupakan bentuk jaringan kehidupan yang saling menghubungkan satu kepentingan dengan kepentingan lainnya. Ekosistem sebagai suatu sistem suatu lingkungan terdiri dari berbagai unsur, yaitu:
1.      Lingkungan fisik atau anorganik, yaitu lingkungan yang terdiri dari gaya kosmik dan fisiogeografis seperti tanah, udara, laut, radiasi, gaya tarik, ombak dan sebagainya.
2.      Lingkungan biologis atau organik, yaitu segala sesuatu yang bersifat biotis berupa mikroorganisme, parasit, hewan, tumbuh-tumbuhan. Termasuk juga, lingkungan prenatak dan proses-proses biologi seperti reproduksim pertumbuhan dan sebagainya.
3.      Lingkungan sosial, yang masih bisa dibagi-bagi menjadi tiga bagian, yaitu:
a.       Lingkungan fisiososial, yaitu yang meliputi kebudayaan materiil; peralatan, senjata, mesin, gedung-gedung dan lain-lain.
b.      Lingkungan biososial manusia dan bukan manusia, yaitu manusia dan interaksinya terhadap sesamanya dan tumbuhan beserta hewan domestic dan semua bahan yang digunakan manusia yang berasal dari sumber organik.
c.       Lingkungan psikososial, yaitu yang berhubungan dengan tabiat batin manusia seperti sikap, pandangan, keinginan, atau keyakinan yang dapat terlihat melalui kebiasaan, agama, ideology, bahasa, dan lain-lain.
4.      Lingkungan komposit, yaitu lingkungan yang diatur secara institusional, berupa lembaga-lembaga masyarakat, baik yang terdapat di daerah kota maupun desa.
Dalam persepektif teori biosentrisme seperti yang dikemukakan Sonny Keraf (2002) manusia memiliki kewajiban dan moral terhadap alam. Kewajiban ini bersumber dan berdasarkan pertimbangan bahwa kehidupan adalah sesuatu yang bernilai.
Pemberdayaan
Pemberdayaan di DAS Cikapundung yang muncul adalah terbentuknya kelembagaan (komunitas) untuk membersihkan dan menyelamatkan ekosistem DAS Cikapundung. Komunitas bukan hanya membersihkan sungai tapi juga memberi penyadaran pada warga sekitar sungai. Selain itu penyelamatan ekosistem ini sukses karena sinergi antar stakeholder yaitu pemerintah, swasta, dan komunitas. Sedangkan di ekosistem mangrove, yaitu: 1)Membentukan lembaga pelestari dan pemerhati lingkungan untuk mengkoordinir masyarakat melakukan penghijauan di saerah mereka, 2) Menciptakan kelembagaan yang mengatur tentang pemanfaatan sumberdaya lingkungan dengan tetap menjaga kelestariannya, 3) Melakukan pelatihan dan pendidikan kepada masyarakat akan pentingnya mangrove bagi ekosistem pesisir, 4)Membentuk partisipasi masyarakat ikut dalam program rehabilitasi masyarakat.
Perbandingan
Ekosistem DAS menitik beratkan pengembangan masyarakat tentang kebersihan lingkungan dan sanitasi. Sedangkan pada ekosistem pesisir lebih menitik beratkan pada pelestarian lingkungan untuk kegiatan ekonomi. Tujuan yang berbeda ini berdasar pada kebutuhan masing-masing warga yang berada di wilayah itu. Di DAS kebutuhan terpenting mereka adalah kelestarian lingkungan berbentuk kebersihan lingkungan dan sanitasi yang baik sedangkan masyarakat pesisir fokusnya bagaimana menjaga lingkungan tetap lestari untuk kebutuhan ekonomi mereka. Pendekatan yang digunakan sama yaitu melakukan penyadaran kepada warga tentang pentingnya menjaga lingkungan tetap lestari. Selain itu mereka juga membantuk kelompok dan melakukan sinergi dengan stakeholder terkait sehingga aksi pengembangan masyarakat lebih efektif dilakukan. Dari segi partisipasi, di DAS dinilai lebih baik karena hampir seluruh warga ikut dalam kegiatan sedangkan di daerah pesisir warga yang berorientasi ekonomi hanya berpartisipasi sebagai buruh tanam sehingga penggerak utama adalah para pengurus Kelompok pantai lestari.
KESIMPULAN
Meskipun berbeda ekosistem pemberdayaan masyarakatnya sama-sama dengan cara penyadaran anggota komunitas. Namun, hal itu tetap disesuaikan dengan kebutuhan warga.


[1] Halimatusadiah S, Dharmawan AH, Mardiana R. 2012. Efektivitas Kelembagaan Partisipatoris di Hulu Daerah Aliran Sungai Citarum. In: Sodality: 06(01). April.
[2]Rusdianti K, Sunito S. 2012. Konversi Lahan Hutan Mangrove Serta Upaya Penduduk Lokal Dalam Merehabilitasi Ekosistem Mangrove. In Sodality: 06(01). April.

Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Pengajaran untuk matakuliah Penerapan Komputer untuk sesi UAS ini sudah dipegang oleh dosen dari masing-masing departemen yang ada di IPB. Matakuliah Penerapan Komputer ini kemudian berubah menjadi muatan lokal. Untuk tugas pertama di awal sesi UAS ini kami diharuskan memosting beberapa tugas makalah yang sudah kami kerjakan selama empat semester di IPB ini. Namun, makalah yang maksud itu akan saya posting pada tulisan berikutnya. Bila teman-teman ingin mengunjungi website Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat dapat dibuka pada link >> SKPM IPB

Hati dan Kita

Pertemuan kali ini rasanya pertemuan pertama kami di semester empat. Setelah berkutat dengan UTS dan hari-hari sibuk di organisasi akhirnya kami dapat bertemu juga. Ya benar, yang saya maksud disini adalah Spammers. Spammers bisa disebut kumpulan pertemanan pertama saya ketika status saya menjadi mahasiswa IPB. Kami saling kenal di media sosial, Facebook pada Grup ANGKATAN 48 – INSTITUT PERTANIAN BOGOR. Namun, kesempatan kali ini saya tidak akan membahas spammers secara keseluruhan karena ada hal yang menarik yang ingin saya bagikan menyangkut hati. Hati saya dan juga mereka :’)
Mereka? Siapa aja emang, Dell? Spammers lagi kumpul lengkap bukan? l Engga lengkap kok cuma ada gue, Pristi, dan Citra 😀
Permasalahan hati sepertinya tidak kunjung usai untuk dibicarakan. Selalu saja ada hal yang memang harus dibahas, diperdebatkan atau dibagikannya kabar suka dan duka. Permasalahan hati juga mempunyai waktu pembahasannya sendiri ketika kami sedang berbincang. Sepertinya masalah hati itu sudah masuk katagori crucial bagi saya.

Semua dimulai dari cerita tentang keadaan sahabat saya Pristi yang sedang diuji hatinya dan Citra yang sedang merasakan gejolak hati di masa-masa satu tahun kebersamaan dengan Teguh dan tidak lupa saya yang mencoba menguatkan hati agar semuanya baik-baik saja. Kami memiliki masalah yang berbeda satu sama lain. Kami berbagi semuanya, kami mengungkapkan hal yang tidak diketahui mereka yang juga dekat dengan kami. Rasanya kami bertiga seperti saudara yang dengan hati terbuka menceritakan semuanya. Cerita hati dimulai dengan air mata menggunakan perasaan seorang wanita kebanyakan. Semuanya kami luapkan tanpa ada satu cerita pun yang kami lupakan untuk kami sampaikan. Setelah waktu yang kami habiskan untuk menangis bersama rasanya egois sekali jika kami tidak menggunakan logika yang kami punya dan yang hanya dimiliki oleh makhluk paling sempurna, manusia. Kemudian kami mencoba menganalisis semua permasalahan yang sudah kami utarakan. Kami membaginya menjadi dua bagian, positif dan negative. Namun, Pristi sesosok wanita dewasa yang sepertinya keseluruhan jiwanya terisi oleh bagian positif yang kemudian membuat bagian negative itu menjadi sesuatu yang bermakna. Dia mengajarkan untuk melihat segalanya dari sisi positif dan jangan membuang sisi negative tetapi simpan dan resapi maknanya. Ketika sedang bersama Pristi, dunia serasa beraroma positif yang menenangkan dan juga menyejukan. Pristi pun yang menguatkan saya untuk tetap yakin pada komitmen ini. Komitmen hati yang sedang saya jalankan. Tentang kekonsistenan menjaga sebuah hubungan. Karena menurutnya seorang pria yang memperjuangkan seorang wanita lebih dari apapun dan siapapun adalah sosok yang istimewa.
Subhanallah Pristi l Subhanallah.. Kalau Pristi cowok rasanya pengen ta’ nikahi :’)
Yaa, walaupun sudah beberapa kali saya uturakan masalah yang sama kepada beberapa orang yang berbeda tapi mereka tidak dapat membuat saya menangis. Sepertinya tolak ukur hati saya tenang itu dengan menangis. Pantas saja dari kemarin hati ini masih belum tenang dan ternyata memang saya belum mengutarakan semuanya, belum ada air mata yang benar-benar menenangkan. Dan lagi-lagi dari awal perkenalan kami sosok Pristi lah yang dapat meyakinkan semuanya. Dan Citra juga yang selalu tak terduga membuka semuanya dengan canda tawa.

Jalani-yakini-ikhlassemua itu akan berakhir dengan sesuatu yang mengejutkan. Semua itu akan berakhir dengan bahagia dan jika bahagia belum kunjung datang maka itu bukan lah sebuah akhir. Percayalah semua itu sudah ada garisnya dan tetap semangat menjalani hari karena sesungguhnya kewajiban kita saat ini adalah mengejar mimpi. Mimpi yang kemudian akan dipersatukan dengan hati. Terima kasih Pristi. Terima kasih Citra 😀

Karena kamu

Aku masih disini
Karena apa?
Karena masih ada secercah sinar merasuki jiwa
Untuk siapa?
Tentu kamu
Tapi kamu selalu meminta aku pergi bukan?
Memang karena burung pun ingin merasakan bebasnya langit biru
dan terlepas dari belenggu
Lalu untuk apa kamu menunggu aku disana?
Karena cahaya yang menghidupkan itu
Padamkan saja
Kau biarkan aku mati?
Aku tetap disini untuk kamu
Terima kasih waktu tetap berputar seperti bumi ini, percayalah
jikalau burung itu lepas jgn pernah kamu kurung lagi
Tidak akan, kebahagiaan itu milik berasama