Pengembangan Masyarakat Berbasis Ekosistem

PENDAHULUAN
Ekosistem merupakan suatu kesatuan tatanan yang terbentuk oleh interaksi (hubungan)timbale balik antara makhuluk hidup (hayati) dengan unsur-unsur non-hayati dalam suatu wilayah. Biasanya yang menjadi ukuran dari suatu wilayah adalah area dengan karakteristik tertentu yang membedakan dengan area-area lainnya, seperti wilayah pedesaan, perkotaan, pedalaman, pesisir, pegunungan, pinggiran, dan lain sebagainya. Sehingga perbedaan dari wilayah-wilayah ini menyebabkan terjadinya ketidaksamaan dalam hal ekosistem, Manik (2003). Manusia sebagai unsure biologis dalam memenuhi kebutuhan hidupnya harus berinteraksi dengan unsur-unsur yang hidup (hewan, tumbuhan) dan juga dengan unsur-unsur tidak hidup (air, udara, tanah) yang mana interaksi dengan kedua unsur tersebut dapat menciptakan suatu kebudayaan diantara manusia itu sendiri. Ekosistem bukan dipahami sebagai faktor tunggal, tetapi sebagai satu-kesatuan dari berbagai elemen yang membentuk ekosistem. Dalam pengembangan masyarakat keterkaitan antara komponen tersebut dijadikan penciri khas dari masyarakat tersebut.
Efektivitas Kelembagaan Partisipatoris di Hulu Daerah Aliran Sungai Citarum[1]
Padatnya pemukiman di sepanjang DAS Cikapundung membuat Sungai Cikapundung tercemar. Selain itu adanya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA Bengkok) menghasilkan sedimentasi yang dialirkan ke Sungai Cikapundung membuat Sungai Cikapundung semakin keruh dan dangkal dengan banyaknya jumlah pasir serta lumpur. Langkah awal untuk mengatasi kerusakan DAS dengan membentuk gerakan masyarakat untuk bersama-sama melestarikan dan menjaga ekosistem DAS dan sebagai wadah yang dapat menampung aspirasi dan koordinasi dalam mengelola DAS. Akhirnya munculah komunitas-komunitas pegiat lingkungan seperti CAMEL dan CRP kegiatannya berhubungan dengan lingkungan khususnya peyelamatan Sungai Cikapundung. Komunitas inilah yang akhirnya menginisiasi komunitas lain dan mempersatukan warga agar peduli terhadap kelestarian Sungai Cikapundung yang telah mengalami kerusakan. Pada triwulan pertama (tahun 2008) sebelum diadakannya kegiatan penyelematan Sungai Cikapundung kualitas airnya dinyatakan dalam keadaan buruk, hal ini dikarenakan banyaknya limbah rumah tangga dan industri. Pada triwulan kedua (tahun 2009) setelah komunitas CRP melakukan kegiatan pembersihan sungai, maka kualitas Sungai Cikapundung membaik karena berkurangnya volume sampah. Namun pada triwulan ketiga (tahun 2010) setelah dibukanya peternakan sapi di hulu sungai, kualitas air dinyatakan lebih buruk dibandingkan dengan kualitas air pada triwulan pertama, sungai menjadi tercemar oleh adanya bakteri E. Coli. Komunitas-komunitas rutin melakukan pembersihan guna mengurangi pencemaran selain itu mereka melakukan aksi tanam pohon, pengelolaan limbah organik dan non organik, dll. Pemerintah juga berperan dalam penyelamatan, melalui kebijakan rehabilitasi dan pencegahan kerusakan Sungai Cikapundung. Swasta khususnya pengelolaan air minum PDAM juga berperan untuk mencegah warga mencemari sungai karena mereka punya kepentingan untuk mengelola air sungai tersebut. Ditambah lagi munculnya berbagai komunitas yang peduli dan melakukan aksi nyata untuk menyelamatkan sungai Cikapundung. Sinergi antar ketiganya memberikan hasil yang positif dengan membaiknya kondisi sungai Cikapundung.
KonversiLahan Hutan Mangrove SertaUpaya Penduduk LokalDalam Merehabilitasi EkosistemMangrove[2]
Ekosistem bakau memiliki beragam manfaat dari segi ekologi ekositem mangrove menjadi daerah utama penghijauan pesisir pantai dan sebagai pembatas daerah pantai dengan laut. Daerah mangrove menjadi merupakan daerah pemijahan (spawning ground), daerah asuhan (nursery ground) dan daerah mencari makan (feeding ground).Manfaat sosial adalah dapat digunakan sebagai pemukiman penduduk dan peruntukan kemaslahatan manusia lainnya. Berbagai manfaat bakau banyak dimanfaatkan oleh penduduk antara lain untuk arang, kuliner, dan daerah tambak. Seperti yang terjadi di Desa Karangsong, Kabupaten Indramayu dimana masyarakat sudah banyak memanfaatkan lahan hutan mangrove untuk kegiatan ekonominya. Tanah timbul disekitar hutan mangrove telah banyak mengalami pergeseran fungsi dari ekologis menjadi fungsi ekonomi masyarakat. Masyarakat telah mengkonversi lahan-lahan tersebut menjadi tambak ikan. Terdapat dampak positif dan negatif dari usaha konversi tersebut karena adanya perubahan ekosistem yang terjadi pada hutan mangrove. Dalam sisi positif masyarakat memiliki lapangan pekerjaan baru sebagia penambak ikan bandeng dan udang. Konversi lahan dimulai ketika para pendatang dari daerah Losari Kabupaten Cirebon datang ke daerah ini, mereka mulai melirik sumberdaya yang belum tersentuh oleh masyarakat dan mulai melakukan konversi kecil-kecilan. Akhirnya tindakan mereka mlai diikuti oleh penduduk lokal, mencoba peruntungan baru. Sebelumnya mereka bekerja sebagia nelayan dan petani sawah tadah yang hanya berproduksi ketika hujan turun. Dampak negatifnya adalah masyarakat yang kurang pengetahuan dan melakukan konversi secara besar-besaran itu  telah merusak ekosistem hutan mangrove. Mereka mengalami kesulitan dalam melakukan budidaya dalam tambakanya antara lain karena fauna dan mikroorganisme alami pakan ikan telah hilang maka mereka harus menyediakan pakan buatan dan tambak disekitar bibir pantai rawan terkena abrasi laut karena tidak ada lagi mangrove sebagai penghalang yang melindungi tambak-tambak mereka. Melihat permasalahan itu  maka ada sebuah LSM yang menawarkan kerjasama dengan masyarakat ntuk merehabilitasi ekosistem mangrove disana dengan membentuk Kelompok Pelestari Lingkungan (Kelopak) pada tahun 1998 melalui persemaian di lahan tambak sewaan milik petani tambak. Namun setelah proyek dari Wetlands selesai, Kelopak mulai pasif sehingga pada tahun 1993. Akhirnya dengan inisiatif 5 orang warga akhirnya terbentuk lagi Kelompok pantai Lestari. Kelompok itu meruapaknan kelompok bentukan dari inisiatif warga masyarakat. Kelompok juga telah berkeja sama dengan instansi-instansi terkait dalam penyediaan bibit, dana maupun pelatihan pengelolaan mangrove. Keberhasilan kelompok ini dalam usaha pelestarian mangrove diapresiasi pemerinath dengan menjadikan daerah ini sebagai daerah percontohan . pencapaian ini bukan tanpa halangan karena ternyata partisipasi amsyarakat masih terbilang rendah karena masih berorientasi pada manfaat jangka pendek dalam bentuk keuntungan ekonomi yang mereka dapatkan ketika menjadi kuli penanan ketimbang manfaat jangka panjang untuk lestarinya lingkungan. Permasalahn ini timbul karena belum adanya pengetahuan warga tentang manfaat mangrove bagi ekosistem.
PEMBAHASAN
Ekosistem juga merupakan bentuk jaringan kehidupan yang saling menghubungkan satu kepentingan dengan kepentingan lainnya. Ekosistem sebagai suatu sistem suatu lingkungan terdiri dari berbagai unsur, yaitu:
1.      Lingkungan fisik atau anorganik, yaitu lingkungan yang terdiri dari gaya kosmik dan fisiogeografis seperti tanah, udara, laut, radiasi, gaya tarik, ombak dan sebagainya.
2.      Lingkungan biologis atau organik, yaitu segala sesuatu yang bersifat biotis berupa mikroorganisme, parasit, hewan, tumbuh-tumbuhan. Termasuk juga, lingkungan prenatak dan proses-proses biologi seperti reproduksim pertumbuhan dan sebagainya.
3.      Lingkungan sosial, yang masih bisa dibagi-bagi menjadi tiga bagian, yaitu:
a.       Lingkungan fisiososial, yaitu yang meliputi kebudayaan materiil; peralatan, senjata, mesin, gedung-gedung dan lain-lain.
b.      Lingkungan biososial manusia dan bukan manusia, yaitu manusia dan interaksinya terhadap sesamanya dan tumbuhan beserta hewan domestic dan semua bahan yang digunakan manusia yang berasal dari sumber organik.
c.       Lingkungan psikososial, yaitu yang berhubungan dengan tabiat batin manusia seperti sikap, pandangan, keinginan, atau keyakinan yang dapat terlihat melalui kebiasaan, agama, ideology, bahasa, dan lain-lain.
4.      Lingkungan komposit, yaitu lingkungan yang diatur secara institusional, berupa lembaga-lembaga masyarakat, baik yang terdapat di daerah kota maupun desa.
Dalam persepektif teori biosentrisme seperti yang dikemukakan Sonny Keraf (2002) manusia memiliki kewajiban dan moral terhadap alam. Kewajiban ini bersumber dan berdasarkan pertimbangan bahwa kehidupan adalah sesuatu yang bernilai.
Pemberdayaan
Pemberdayaan di DAS Cikapundung yang muncul adalah terbentuknya kelembagaan (komunitas) untuk membersihkan dan menyelamatkan ekosistem DAS Cikapundung. Komunitas bukan hanya membersihkan sungai tapi juga memberi penyadaran pada warga sekitar sungai. Selain itu penyelamatan ekosistem ini sukses karena sinergi antar stakeholder yaitu pemerintah, swasta, dan komunitas. Sedangkan di ekosistem mangrove, yaitu: 1)Membentukan lembaga pelestari dan pemerhati lingkungan untuk mengkoordinir masyarakat melakukan penghijauan di saerah mereka, 2) Menciptakan kelembagaan yang mengatur tentang pemanfaatan sumberdaya lingkungan dengan tetap menjaga kelestariannya, 3) Melakukan pelatihan dan pendidikan kepada masyarakat akan pentingnya mangrove bagi ekosistem pesisir, 4)Membentuk partisipasi masyarakat ikut dalam program rehabilitasi masyarakat.
Perbandingan
Ekosistem DAS menitik beratkan pengembangan masyarakat tentang kebersihan lingkungan dan sanitasi. Sedangkan pada ekosistem pesisir lebih menitik beratkan pada pelestarian lingkungan untuk kegiatan ekonomi. Tujuan yang berbeda ini berdasar pada kebutuhan masing-masing warga yang berada di wilayah itu. Di DAS kebutuhan terpenting mereka adalah kelestarian lingkungan berbentuk kebersihan lingkungan dan sanitasi yang baik sedangkan masyarakat pesisir fokusnya bagaimana menjaga lingkungan tetap lestari untuk kebutuhan ekonomi mereka. Pendekatan yang digunakan sama yaitu melakukan penyadaran kepada warga tentang pentingnya menjaga lingkungan tetap lestari. Selain itu mereka juga membantuk kelompok dan melakukan sinergi dengan stakeholder terkait sehingga aksi pengembangan masyarakat lebih efektif dilakukan. Dari segi partisipasi, di DAS dinilai lebih baik karena hampir seluruh warga ikut dalam kegiatan sedangkan di daerah pesisir warga yang berorientasi ekonomi hanya berpartisipasi sebagai buruh tanam sehingga penggerak utama adalah para pengurus Kelompok pantai lestari.
KESIMPULAN
Meskipun berbeda ekosistem pemberdayaan masyarakatnya sama-sama dengan cara penyadaran anggota komunitas. Namun, hal itu tetap disesuaikan dengan kebutuhan warga.


[1] Halimatusadiah S, Dharmawan AH, Mardiana R. 2012. Efektivitas Kelembagaan Partisipatoris di Hulu Daerah Aliran Sungai Citarum. In: Sodality: 06(01). April.
[2]Rusdianti K, Sunito S. 2012. Konversi Lahan Hutan Mangrove Serta Upaya Penduduk Lokal Dalam Merehabilitasi Ekosistem Mangrove. In Sodality: 06(01). April.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s