Jatuhnya Soeharto dan Transisi Demokrasi Indonesia

Judul buku: Jatuhnya Soeharti dan Transisi Demokrasi Indonesia
Penulis: Denny J.A
Penerbit: LKis
Tahun terbit: 2006
Jumlah halaman: 124 Halaman


Banyak hal yang perlu diperbaiki setelah jatuhnya rejim di masa Soeharto. Masa transisi demokrasi Indonesia mengaruskan adanya suatu perubahan politik. Perubahan politik tersebut dapat terjadi melalui tiga proses yang saling berbeda satu sama lain, yaitu perubahan melalui reformasi, revolusi ataupun involusi. Ketiga perubahan itu memiliki kesempatan yang sama untuk mengubah Indonesia pada masa muram itu.

Jatuhnya Soeharto dimulai dari permasalahan krisis ekonomi yang kemudian membangunkan kembali gerakan mahasiswa seperti pada awal masa Orde Baru tahun 1966. Bukan hanya itu yang kemudian membangunkan gerakan mashasiswa Indonesia, namun pemerintahan rejim Soeharto memberikan ketidakpuasan di kalangan masyarakat luas. Maraknya gerakan mahasiswa itu kemudian menyebabkan kerusuhan di pertengahan Mei 1998. Banyak sarana dan prasarana milik negara dan juga pribadi yang rusak. Mereka yang terlibat dalam kerusuhan itu bukan lah hanya mahasiswa dari seluruh Indonesia namun para oknum lain yang mengambil kesempatan untuk melakukan kegiatan tidak tercela seperti membakar gedung-gedung perkantoran serta melakukan penjarahan di Ibu kota. Penulis memaparkan bahwa turun tahtanya Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 sangat menggemparkan berbagai media massa di seluruh dunia, seperti New York Times yang memberitakan tentang mundurnya penguasa di masa Perang Dingin dan CNN yang selalu membahas berita itu secara terus menerus dalam waktu yang cukup lama. Setelah jatuhnya rejim Soeharto menyebabkan adanya masa transisi yang labil di Indonesia. Saat itu Indonesia sedang kebingungan arah, apakah akan kembali pada masa otorianisme atau berubah pada arah demokrasi. Para pemerintah didalamnya tidak ingin gegabah untuk melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya jika mereka kembali pada masa otorianisme tetapi mereka pun tidak yakin akan perubahan arah menuju demokrasi.

Golongan Karya (Golkar) partai politik dibawah naungan Soeharto kemudian berbenah diri. Golkar ingin memutuskan hubungan dengan masa lalu ketika mereka sedang berada di atas angin, karena saat itu mereka terpuruk atas permasalahan yang menimpa segalanya. Walaupun dahulu partai ini besar karena nama Soeharto namun untuk tetap mempertahankan keeksistensian di kancah politik negeri mereka rela untuk memputuskan segala hubungan yang berkaitang dengan Soeharto. Kemudian Akbar Tadjung dipilih untuk menggantikan Soeharto sebagai ketua umum Golkar. Atas kemenangan Akbar Tandjung ini Golkar berharap mereka dapat memenangkan kembali kursi pemerintahan Indonesia seperti masa sebelumnya. Bukan hanya Golkar yang kemudian maju untuk merebut kembali tahta itu tetapi banyak partai politik yang kemudian hadir untuk turut serta meramaikan pesta demokrasi pemilihan umum di tahun 1999. PDI Perjuangan merupakan salah satu partai politik yang akan bersaing dengan Golkar pada pemilihan umum 1999. Langkah awal PDI Perjuangan adalah dengan dilakukannya konsolidasi PDI Perjuangan di Bali awal Oktober 1998. Saat itu Megawati tidak sekedar dikukuhkan menjadi ketua umum, namun ia semakin bervolusi menuju pemimpin yang kharismatik. Megawati maju tentu tidak dengan tangan kosong, beliau telah mempersiapkan senjata dengan mewakili misi ekonomi reformasi dan membawa perubahan mendasar dalam kelompoknya yang populistik. Populisme Baru merupakan sesuatu hal yang sedang berkembang di negara Amerika Latin dan hal tersebut merupakan senjata yang beliau bawa untuk bertarung dikemudian hari.

Staretegi yang digunakan dalam penarikan massa yang dilakukan oleh sejumlah partai politik adalah dengan melakukan komunike bersama antar partai. Tiga partai dengan jumlah massa yang besar, PDI Perjuangan, PAN, dan PKB membuat komunike bersama. Respon publik pun sangat antusias karena mereka merasa ketiga partai ini cocok untuk berkoalisi satu sama lain. Jika kita telaah dari hasil survey yang dilakukan sebelum pemilihan umum 1999 ini dimulai, diperkirakan bahwa tidak ada partai yang menang secara dominan di atas 50%. Hal ini disebabkan berbagai partai politik yang ada sudah memiliki ancang-ancang yang baik sehingga membingungkan publik untuk memilih yang terbaik dari yang terbaik. Bukan hanya partai yang bersifat umum (partai terbuka) saja yang mengincangkan ikat kepalanya, namun partai islam yang ada di Nusantara pun tidak ingin kalah menunjukan keeksistensiannya di dunia politik. Para pendiri dari partai islam itu sendiri merasa yakin bahwa mereka dapat memenangkan pemilihan umum di tahun 1999. Ternyata setalah melakukan survey, negara yang mayoritas beragama islam tidak sepenuhnya mendukung partai-partai yang bergerak atas nama islam, karena mereka berendapat bahwa Pancasila bukan hanya milik islam tetapi milik seluruh rakyat Indonesia. 

Sepertinya selalu saja adalah yang salah dari proses yang dilakukan oleh perangkat negara Indonesia. Salah satunya adalah kurangnya partai politik dalam memberi tempat bagi para pemilih rasional. Kampanye yang berlangsung sebelum pemilihan berlangsung itu lebih mirip degan karnaval. Sosialisasi isu strategis yang diperjuangakan partai ke khalayak tidak menonjol. Pemilih rasional merasa kesulitan ketika membedakan platform, bahkan kalau diminta membedakan platform hanya lima partai terbesar saja. Pada akhirnya pemilihan umum berlangsung ternyata Golkar masih menarik perhatian penduduk Indonesia, yang pada akhirnya Golkar menempati posisi kedua setelah PDI Perjuangan. Dibandingkan partai lain, basis massa dan platform PDI Perjuangan dan Golkar sangatlah dekat. Mereka sama-sama berbasiskan massa yang plural dan assas kebangsaan. Namun, disini Indonesia memerlukan pemerintahan yang baru dan kuat. Siapakah yang lebih baik dalam membangun Indonesia kedepannya? Apa yang akan terjadi kedepannya? Apa yang telah mereka capai apakah akan terus diperjuangkan atau disia-siakan?

Dalam buku karangan Denny J.A ini kita dapat melihat perjuangan perebutan kembali kekuasaan dari tangan rejim Orde Baru. Disini penulis mampu membandingkan keadaan negara Indonesia saat itu dengan negara-negara lainnya sehingga kita dapat mengetahui lebih kurangnya keadaan politik di negeri pertiwi ini. Politik kerusuhan Mei 1998 yang membahas mengenai literature ilmu politik yang menyediakan jawaban atas terjadinya perubahan gerakan politik di masa itu. Penulis juga mampu memberikan pandangan menarik atas isu-isu yang terjadi selama masa pemilihan umum 1999. Banyak hal yang kita dapatkan dari buku tentang jatuhnya Soeharto ini. Semua diungkap secara ringkas mengenai sejarah politik dan ekonomi negeri pertiwi. Namun, dalam buku yang juga membahas mengenai transisi demokrasi Indonesia ini tidak memberikan data-data yang akurat karena kurangnya data yang didapat dari media massa di saat itu yang dapat menguatkan isi dari buku itu sendiri.

Setelah membaca buku tentang sejarah dalam perebutan kemerdekaan didalam kemerdekaan ini saya dapat merasakan gejolak mahasiswa di tahun 1998. Mahasiswa sebagai penerus bangsa dikemudian hari tidaklah salah untuk melakukan itu semua, karena jika kita tidak melakukannya dan kemudian berbuat hal yang sama buruknya dengan pendahulu kita maka dapat dipastikan negara ini akan semakin bobrok. Pada tulisan ini ingin saya ucapkan terima kasih kepada para pejuang mahasiswa dari seluruh Indonesia. Bangsa yang hebat adalah bangsa yang mampu menghargai sejarahnya. Hidup Mahasiswa! Semoga semakin Berjaya dalam membela semua kebenaran yang ada J
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s