Proud To Be Indonesian

Januari 2010
Aku mengenalnya ketika jam sekolah telah usai satu bulan yang lalu. Aku sudah menyadari kalau Dimas adalah murid baru. Empat bulan yang lalu kami pernah bertemu di lapangan upacara namun kami tidak saling tegur sapa. Kali ini aku bertemu dengan si wajah lucu kenak-kanakan yang membuat aku ingin mengenalnya. Aku pun langsung menghampirinya yang sedang duduk sendiri di tempat makan Bakso Pak Kumis. Obrolan dimulai dengan saling memperkenalkan diri dan selanjutnya mengalir begitu saja. Kantin kala itu sangat sepi, banyak siswa yang sudah pulang sekolah. Karena masih ada yang harus aku lakukan maka terpaksa aku masih di sekitar sekolah hingga pukul tiga sore. Dimas yang sedang mengurusi surat kepindahan juga terpaksa menunggu begitu lamanya. Sudah lima bulan Dimas bersekolah disini namun surat kepindahannya masih belum selesai diurus pihak SMA Cendrawasih. Birokrasi yang berbelit membuat Dimas jengkel dengan sekolah barunya itu. Seberes perkenalan diri dan obrolan kecil tentang Cendrawasih aku langsung pamit pulang karena sudah dijemput. Tidak ada kata lagi yang diucapkannya dan dia hanya tersenyum.

“Kenapa dia ga nanya nomor HP aku yah padahal kan tadi obrolan kita cocok banget, siapa tau bisa jadi temen deket. Huh.”, pilu hati ku saat itu.

Sesampainya di rumah aku langsung mengecek HP, ternyata Dimas mengirim SMS kepadaku 10 menit yang lalu sebelum aku membuka HP ini. Aku sangat senang sekali. Aku pun tak ragu untuk menanyakan darimana dia mendapatkan nomor HP ku, ternyata dia segera mencari nomor HP ku kepada teman sekelasnya yang juga teman sekelas ku di kelas 11, Rio. Semenjak saat itu hubungan kami menjadi semakin dekat dan  akhirnya kami resmi berpacaran pada bulan Januari.

Februari  2011
“Rara, Selamat Pagi”, seketika tangan Dimas sudah berada di atas kepalaku dan mengacak-ngacak rambutku. Ini kebiasaan yang paling disukainya terhadapku dan aku menikmatinya.
“Selamat pagi, Sayang”, balasku dengan senyum manis yang tidak mempedulikan rambutku yang sudah sangat berantakan karenanya.  Kami bertemu di pintu gerbang sekolah. Sudah dua setengah tahun kami menuntut ilmu di sekolah tingkat menengah atas yang artinya sebentar lagi kami akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Dimas adalah pacar baruku. Kami baru menjalani hubungan ini selama dua bulan. Dia adalah murid pindahan dari Jakarta dan aku benar-benara baru mengenalnya. Belum banyak yang aku ketahui tentangnya namun yang pasti dia adalah siswa yang baik dan juga pintar. Tak heran raport di semester satu di kelas 3 semuanya berisikan nilai mutu A. Banyak guru yang menyayangkan karena dia murid pindahan sehingg mereka tidak dapat merekomendasikan Dimas sebagai Murid Teladan. Ya, Murid Teladan adalah prestasi yang didapatkan murid terbaik dengan nilai sempurna yang diakumulasikan dari semester ganjil di kelas satu hingga semester genap di kelas tiga. Ya, sekali lagi itu sangat disayangkan.

Waktu ku bersama Dimas di sekolah ini hanya tinggal menghitung bulan. Mulai dari bulan lalu kami sudah mengikuti kelas tambahan di sekolah. Kami akan berada di sekolah setiap harinya selama 10 jam. Sungguh bosan rasanya jika 8 jam yang kami gunakan untuk mengulang pelajaran yang sudah kami pelajari selama tiga tahun di Cendrawasih. Selama jam istirahat berlangsung Dimas selalu menghampiriku di kelas. Kami menggunakan waktu istirahat ini untuk mengobrol lebih dekat satu sama lain tapi tidak dipungkiri juga jika aku selalu memanfaatkan waktu tersebut untuk meminta dia mengajari ku mata pelajaran hitungan seperti Fisika dan Matematika. Sungguh beruntung rasanya mempunyai seorang pacar yang juga Murid Teladan di kelasnya. Hari-hari kami dipenuhi oleh soal-soal Ujian Nasional dan juga Ujian Mandiri dari masing-masing Perguruan Tinggi yang akan dituju. Semua ini ditunjukkn sebagai bentuk persiapan yang dilakukan oleh Cendrawasih dalam menghadapi Ujian Nasional dan juga Ujian Masuk Perguruan Tinggi, jadi tentu saja aku menjalankan semua ini dengan sepenuh hati dan suka cita. Dan aku pun memang harus melakukannya dengan seperti itu, bagaimana tidak memangnya Universitas Indonesia mau menerima mahasiswa yang tidak memiliki kompeten di bidang pelajaran? Oh No…

Sebenarnya cukup muak setiap kali aku dan Dimas sedang bersama dan membicarakan masa depan kami. Aku akan melanjutkan pendidikan S1 ku di Universitas Indonesia bagian Komunikasi sedangkan Dimas akan melanjutkan pendidikan S1 nya di Negeri Kangurru berasal, alasan yang dia berikan kepada ku tentang keinginannya bersekolah di Australia adalah karena ketidaksukaannya terhadap semua sistem yang ada di Indonesia. Mulai dari sistem keamanannya sampai sistem pendidikan yang sangat sering berubah dan dia merasa itu tidak masuk akal. Terlalu sering aku menyinggungnya masalah ini dan tidak jarang juga kami bertengkar karena hal yang sama tentang masa depan Indonesia. Yah aku memang tidak mengakui jika Indonesia is the perfect country in the world, tetapi setidaknya aku tahu bagaimana aku bersikap baik untuk Ibu Pertiwi. Aku rasa hanya ini kekurangan yang dimiliki Dimas, dimana jiwa patriot yang dimilikinya tidak sebesar kemampuannya dalam menyelesaikan soal-soal ujian.

Minggu pertama Juni 2011
Akhirnya kami sudah melewati masa-masa menegangkan dalam menentukan tujuan hidup untuk masa depan. Seluruh siswa di SMA Cendrawasih dinyatakan lulus Ujian Nasional. Aku pun lulus Ujian Mandiri yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia dan juga diterima di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Komunikasi. Rasanya seluruh beban tiga tahun ini terbayar lunas begitu aku dinyatakan lulus seluruh ujian yang aku ikuti untuk masa depan ku kelak. Tidak ada rasa menyesal setelah aku melewatki hari-hari penuh pelajaran tanpa jalan-jalan. Dan tentu ini semua atas bantuan Dimas yang begitu sabar dalam mengajariku beberapa pelajaran. Dimas tak kalah bahagiannya ketika dikabarkan mendapat beasiswa di Gordon Institute of TAFE, Australia. Aku turut senang atas berita itu, tetapi rasa senang ini bercampur dengan sedikit rasa sesak karena Dimas benar-benar akan semakin jauh dari Bogor. Memang seharusnya aku tidak berpikiran seperti ini dan terus mendukung Dimas untuk kesuksesan masa depannya. Karena bagaimana pun ini adalah satu dari sekian impian Dimas untuk menjadi orang sukses seperti orang tuanya. Dan aku pun mencoba untuk tetap tenang dan menerima semua ini.

“Sayang, selamat yah akhirnya cita-cita sekolah di Australia terpenuhi”

Dimas tidak langsung merespon ucapan selamat dari ku. Dia terlihat sibuk dengan gadget nya untuk membalas ucapan selamat dari teman-teman lainnya melalui akun sosial media seperti twitter atau path. Dia terlihat begitu senang. Aku belum pernah melihatnya seperti ini.

“Sayang?”

“Ya? Oh maaf yah sayang aku kelewat senang sampe lupa kalau ada kamu disini heheh”
Aku sekarang berada di rumah Dimas untuk merayakan diterimanya dia di Gordon Institute, namun siapa yang sangka kalau ternyata Dimas lebih senang aku tidak berada di sampingnya untuk saat ini.

“Dim, aku pulang aja yah?”, akhirnya aku menyerah karena kebisuan yang diciptakan Dimas terhadapku.

Wait wait. What’s wrong honey?”

“Kamu masih sibuk sama gadget dan Gordon Institute mu, sayang. Aku gamau kamu jadi terganggu karena aku disini” aku beranjak dan hendak pamit namun Dimas menarik tanganku dan meminta ku untuk duduk kembali.

“Maaf sayang aku terlalu senang. Akhirnya aku bisa bersekolah di luar negeri ini. Aaaaahh rasanya seperti mimpi aku dapat berkumpul bersama orang-orang terbaik di seluruh dunia. Aku bisa terbebas dari kotornya negerti ini. Kamu ngerti kan maksud aku apa?”

“Iya aku ngerti kok, kamu kan gak suka sama semua sistem yang ada di Indonesia. Aku mau tanya dong setelah kamu lulus dari Gordon Institute apa yang akan kamu lakukan setelahnya? Mau lanjut S2 di Australia atau kembali ke Indonesia bersama ku?”, spontan aku langsung menanyakan hal ini.

 Aku memang sudah lama ingin menanyakan hal ini kepada Dimas. Aku juga butuh kepastian atas hubungan yang sedang kami jalani ini.

Dimas  memberi jawaban yang mengejutkanku, dia ingin tetap melanjutkan sekolah S2 di Australia. Dia juga ingin bekerja di perusahaan swasta di Asutralia seperti Om Redi, adik dari Ibunya dan juga ayahnya. Tidak dapat dipungkiri jika aku menangis dihadapannya. Aku tidak dapat menyembunyikan lagi kejengkelanku atas semua tingkah laku yang akan dia lakukan untuk negeri orang lain. Selama ini usaha yang dia lakukan bukan untuk Ibu Pertiwi. Tidak pernah terpikirkan olehnya bagaimana berterima kasih pada negeri yang telah memberinya kehidupan ini. Dengan kata lain setelah benar-benar dinyatakan lulus dari SMA Cendrawasih Bogor ia akan langsung menetap di Australia. Orangtuanya pun mengijinkan karena ayahnya bekerja sebagai Manajer Marketing di perusahaan komputer dunia yang berlokasi di Sydney, jadi Australia memang sudah menjadi rumah kedua bagi keluarga mereka.

“Dim, aku ga masalah kalau kamu memang mau melanjutkan sekolahmu kemudian di Australia, tetapi coba tolong pikirikan lagi untuk terus tinggal disana. Apa kamu ingin menggunakan segala kehebatanmu untuk negeri yang tidak pernah memberimu apa-apa. Tidak pernah memberimu keindahan alam setiap harinya dan juga tidak pernah memberimu kehidupan seperti di Indonesia. Aku juga tahu orangtuamu tidak keberatan jika kamu ingin terus menetap di Australia karena ayahmu memang bekerja disana. Bukankah kamu begitu membenci Indonesia karena terlalu banyak sistem yang kotor, juga terlalu banyak koruptor? Tapi apa kamu tidak ingin menjadi pecetus peradaban di Indonesia untuk menciptakannya menjadi lebih baik? Aku yakin dengan segala kemampuan yang kamu miliki itu kamu dan orang-orang hebat diluar sana dapat mengubah segala sisi buruk Indonesia menjadi lebih baik. Setidaknya itu bisa menjadi salah satu bentuk rasa terima kasih kamu karena selama tujuh belas tahun ini kamu hidup di Indonesia dengan memakai segala sumberdaya alam yang ada….”

Setelah aku mengungkapkan semuanya tidak ada lagi percakapan diantara kami. Dimas terus diam dan menunduk. Memang selama kami bertengkar mengenai masalah ini aku selalu mengalah dan diam tapi kali ini saja aku ingin menjadi orang yang membuka matahatinya untuk Indonesia. Bukannya berterimakasih atas semuanya Dimas malah memintaku pulang. Aku tidak punya wewenang untuk memintanya tidak mengusirku. Aku langsung menuju pintu yang masih tertutup dan melihat kembali kebelakang berharap Dimas akan memintaku untuk tetap disini. Tetapi nyatanya tidak.

Sesampainya di rumah aku langsung memeriksa handphone siapa tahu Dimas mengirimiku SMS. Lagi-lagi tidak ada respon baik yang dia berikan kepada ku setelah kejadian tadi. Aku kemudian berinisiatif untuk memulainnya terlebih dahulu.

                                To: Dimasayang
Tolong hiraukan apa yang sudah aku katakan kepadamu tadi, tapi jangan hiraukan status apa yang sedang kita jalani. Aku harap kamu mengerti. Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.
Love you 🙂

Terkesan kaku memang, tapi yasudahlah semoga dia mengerti

Minggu kedua Juni 2011
Sudah memasuki minggu kedua bulan juni yang artinya sudah satu mingggu ini Dimas tidak memberi respon dari semua pesan yang aku kirim setiap harinya semenjak hari kami bertengkar. Well yeah I really miss him. Aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Aku merasa canggung untuk menanyakan kabarnya ke teman-teman sekelasnya di SMA Cendrawasih. Aku malu untuk memulai semuanya seorang diri. Dimas tidak mencariku sampai sejauh ini jadi aku mulai melakukan yang sama untuk tidak mencari Dimas. Tapi ini sulit. Akhirnya aku menyerah, aku menghubungi Rio dua hari kemudian.

                                To: Rio Endra
                Rio, kamu tau gimana kabar Dimas? Belakangan ini dia ga respon semua pesan yang aku kirim. Bisa tolong bantu aku untuk bisa ketemu Dimas secepatnya?

Oh God, Finally I send this message. And wow Rio give me quick respon
                               
From: Rio Endra
Lagi berantem yah kalian? Dimas udah cerita semuanya. Kamu tenang aja, dia cuma lagi pengen sendiri
Oke aku coba semampuku, Rara. Semoga dia udah siap ketemu kamu lagi 😀

THANK YOU, GOD!

To: Rio Endra
                Thank you so much. I’ll be waiting for your invitation for meet up with Dimas :’)

Rasanya segala masalah di pundaku terasa ringan seperti sudah menyelesaikan Ujian Nasional kedua di tingkat SMA. Aku sangat senang jika memang Rio dapat mempertemukan aku dan Dimas. Aku siap menerima semua konsekuensi asalkan hubungan aku dan Dimas menjadi jelas kembali. Semua ini membuat aku pusing. Siapa sangka keeskoan harinya aku dikabari untuk datang ke salah satu rumah makan yang ada di Taman Kencana, Bogor Kota, untuk bertemu dengan Dimas. Tidak sabar rasanya untuk bisa bertemu Dimas lagi. Semoga ada kejelasan dari semua kebisuan yang lagi-lagi dia ciptakan kepadaku.

Hari esok yang kemarin aku tunggu sudah menjadi hari ini yang ceria. Aku bangun lebih pagi dari yang biasanya dan menyiapkan pakaian terbaikku untuk bertemu Dimas. Aku juga membawakannya cookies yang sudah aku beli semalam di toko kue dekat rumah. Tidak sabar rasanya untuk segera beranjak dari rumah menuju Taman Kencana.

Taman Kencana
Selama di perjalanan aku hanya berhubungan dengan Rio via sms untuk menentukan tempat bertemu nanti. Terlalu canggung bila aku harus menghubungi Dimas sekarang dan mengiriminya pesan kembali seolah tidak terjadi apa-apa selama seminggu ini. Ternyata Rio dan Dimas sudah sampai terlebih dahulu dibanding aku.

Jelas saja mereka kan memakai motor sedangkan aku harus berkelit dengan macetnya Kota Bogor dicampur sumpeknya Kendaraan Umum disini.

Kemudian aku memasuki ruang rumah makan yang telah kami sepakati untuk bertemu. Tidak terlalu besar tapi terlihat begitu cantik dengan taman kecil di belakangnya yang ditumbuhi berbagai macam bunga mawar. Dari kejauhan aku melihat Rio dan Dimas sedang menikmati secangkir kopi yang mereka pesan. Saking kecilnya rumah makan ini Rio tidak perlu berteriak memanggilku untuk mendekati mereka.

Aku pun langsung duduk disebelah Rio dan berhadapan dengan Dimas. Aku tidak banyak bicara dan langsung menyimpan cookies diatas meja seraya mempersilahkn untuk memakannya. Tidak disangka Dimas yang memulai percakapan diantara kami. Dimas mengutarakan semua yang dia rasakan kepada kami. Banyak hal yang baru aku ketahui tentangnya. Aku ini pacar seperti apa yang tidak peduli akan perasaannya…

“Maafin aku, Ra. Aku ga bermaksud bikin kamu jadi tersiksa karena aku mendiami kamu selama ini. Aku cuma butuh waktu untuk semuanya. Kita belum pacaran lama dan proses dari teman menuju pacaran juga cuma sebulan. Banyak yang ga kita tahu satu sama lain. Kamu juga pasti tidak tahu kalau selama ini kedua orangtua ku tidak mempermasalahkan kalau aku lebih menyukai Australia dibanding Indonesia. Mereka tidak pernah menceramahiku seperti apa yang kamu lakuin kemaren ke aku. Alasan kenapa saat itu aku hanya diam dan kemudian menyuruhmu pulang karena aku tidak ingin kamu semakin sakit hati kalau aku sampe kelepasan ngomong kasar. Aku sudah memikirkan semuanya. Memang tidak sepantasnya aku berlaku kejam pada negara yang sudah menghidupi ku. Tidak sepantasnya aku berbuat tidak sopan pada pahlawan bangsa yang telah berjuang dengan kerasnya untuk merebut kemerdekaan. Dan tidak sepantasnya juga aku selalu mengutuk kegelapan dimana aku mampu untuk menerangi dengan cahaya lilin, seperti yang kamu katakan kepadaku. Rio juga mengajariku ini semua loh, dia meminjamkanku banyak buku tentang Indonesia. Ga adil juga kan kalau Indonesia harus dibandingkan dengan Australia yang memang dikenal sebagai salah satu negara maju? But now I’m proud to be Indonesian……..

Waw. Aku terdiam begitu lama setelah mendengar semua yang telah diutarakan Dimas. Ada sedikit rasa haru menyelimuti meja yang kami tempati.

Aku pun kemudian dengan segera menanyakan hal yang berhubungan dengan apa yang telah diucapkan oleh Dimas.

“Jadi kamu tetap di Indonesia atau akan ke Australia sebagaimana seharusnya?”

“Aku akan tetap belajar di Australia karena bagaimanapun ini adalah keinginan terbesarku, tapi tenang saja aku akan melanjutkan S2 di Indonesia, kamu akan tetap menungguku kan?”

“Pasti…”

Aku langsung menjabat tangan Dimas erat-erat dan terbata mengucapkan terima kasih sambil menangis kecil. Seperti biasa dia mulai mengacak-ngacak rambutku sambil tersenyum manis kepada ku.

“ciyee, udah ga marahan dong? Jadi pemenang antara Australia vs Indonesia siapa nih?”, celoteh Rio itu membuat aku dan Dimas tertawa bersama. Kami kemudian langsung membicarkan hal lain mengenai masa depan satu sama lain.
Aku tidak akan lupa berterima kasih setelah ini kepada Rio karena dia telah mempertemukan aku dengan Dimas dan membantu ku untuk semakin mengenal Indonesia kepadanya. Dan hal yang lebih membuat aku sangat senang adalah pada akhirnya Dimas memiliki makna Indonesia di dalam dirinya dan dengan segetnap hatinya dia tidak akan pernah untuk mengutuk kegelapan lagi seperti yang pernah dilakukannya
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s