Sudah Terbiasa

Panasnya malam ini menemani saya untuk kembali berbagi cerita di halaman yang sedikit terlupakan.

Ketika pasangan lain menikmati minggu malam diluar rumah untuk menonton film bersama atau pun sekedar makan malam di angkringan, lagi-lagi saya hanya duduk terdiam untuk menyelesaikan tugas yang belum usai. Jika beberapa minggu terakhir saya berada diluar rumah untuk turun ke lapang melaksanakan tugas, tapi malam ini saya diharuskan stay di rumah. Tapi sebenarnya malam minggu ini bisa saya habiskan bersama teman-teman di Gunung Bunder untuk mengikuti kegiatan akhir di kepengurusan BEM FEMA TRILOGY, apa boleh buat izin pun tidak didapat. Lalu ini lah hasil yang saya dapat dari malam minggu sebelum melaksanakan UAS. Tidak apa toh saya sudah terbiasa berdua bersama tugas seperti ini hehe.

Banyak hal yang ingin saya bagikan. Entah itu soal perasaan yang semerawut atau kegiatan yang menumpuk dan keluar jalur dari agenda. Semuanya berhubungan dan memberikan dampak negative pada diri saya. Saya menjadi stress dan jerawat datang menyerang. Shhhh… tak apa saya sudah terbiasa….

Saya sudah terbiasa ditemani oleh dia melalui pesan singkat yang tiada akhir. Saya sudah terbiasa jika percakapan kami hanya sebatas “kamu lagi apa atau sudah makan belum”. Tapi entah mengapa saya masih belum terbiasa untuk menyadari kalau dia (sedang) berada jauh di bagian timur Pulau Jawa. Saya selalu menguatkan diri kalau semua ini akan baik-baik saja. Kalau ternyata dia memang seseorang yang harus diperjuangkan, dan kalau semuanya pasti berujung sempurna. Lalu apa maksud dengan hati yang semerawut?

Saya sedang dilanda pilu untuk terus menunggu. Untuk terus menahan rindu. Semua ucapan melalui pesan singkat rasanya tidak  berarti ketika saya sudah merasa seperti ini. Memang, saya sudah terbiasa dengan semuanya. Tapi bukan berarti saya harus terbiasa untuk selalu mengalah dengan keadaan bukan? Bukan berarti saya selalu kuat untuk menguatkan pundak yang terasa berat? Ya, mau bagaimana pun saya harus terbiasa kembali jika memang itu yang saya inginkan.

Saya sudah terbiasa menulis keluh kesah seperti ini dan kemudian menyimpannya dalam diam karena saya sudah terbiasa tidak mempermasalahkan semua yang ingin saya lakukan.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s