Cisalopa Punya Cerita

“Kembali Ke Desa, Mengembangkan Bangsa!!”

Teriakan itu mengawali kepergian kami menuju Kecamatan Cigombong untuk melakukan turun lapang singkat. Ini adalah kali ketiga di semester 5 yang mengharuskan kami terjun langsung melihat keadaan lapang dan ini adalah kali kedua kami dari KPM48 melakukan kegiatan turun lapang bersama dalam kolaborasi mata kuliah Perubahan Sosial dan Sosiologi Pedesaan atau biasa dikenal turun lapang Persosped. Walaupun saya sudah terbiasa untuk turun lapang, tapi entah mengapa selalu ada rasa penasaran setiap kali harus melakukan. Ada sedikit cerita yang ingin saya bagi, ada sedikit pengalaman yang harus teman-teman ketahui. Saya mulai dari sini yah…


Jum’at 20 Desember 2013 terlihat seperti Bogor yang seharusnya. Tidak ada terik matahari yang menyerang, tetapi rintikan air hujan membuat tubuh terasa dingin. Kelompok turlap Persosped tahun ini tidak sebanyak tahun lalu. Berkurangnya tiga kelompok dari total 26 kelompok di tahun 2012 cukup menggambarkan alasan yang tepat. Bukan. Bukan karena berkurangnya peminat dari kedua mata kuliah tersebut, tetapi untuk kali ini Persosped tidak ditemani oleh Kok. Ya, Kok adalah nama matakuliah dari KPM. Saya lupa apa kepanjangannya. Tahun lalu turun lapang bersama ini mengkolaborasikan tiga mata kuliah dan KOK termasuk didalamnya. Tahun 2013 memiliki suasana berbeda dan saya rasa itu lebih baik, karena kami tidak dipusingkan oleh laporan yang harus menggabungkan ketiganya hahah. 

Pukul 08.21 kami pergi menuju Kecamatan Cigombong. Dari total 23 kelompok yang ada terbagi mengisi desa-desa yang ada di bawah Kecamatan Cigombong. Kelompok 15 diamanahkan untuk berbagai cerita dengan warga di Desa Srogol, Kp Cisalopa, RW 3. Rasa penasaran semakin menjadi ketika kami (KPM48) mengulas kembali turun lapang Kokpersoped tahun lalu. Beda cerita beda usia. Jika tahun lalu kami adalah anak bawang dari kelompok turun lapang, tetapi kali ini kami harus menjadi penuntun adek angkatan yang baru merasakan serunya bersama masyarakat. Bukan beban, hanya saja perut ini terasa mulas ketika kami membahas kenyataan.

Sepanjang perjalanan kami membayangkan sawah yang membentang dan hijaunya pepohonan di kanan kiri tempat kami melakukan turun lapang. Setapak jalan dari tanah dan bebatuan tidak lupa kami bayangkan untuk melengkapi kehidupan desa sesungguhnya. “Ohya! kalau gunung pangrango muncul di balik pohon itu sepertinya bakal lebih seru”, celetuk salah seorang adek angkatan saya. Oh betapa indahnya jika Srogol seperti Bodogol yang sudah saya kunjungi sebelumnya. Tapi kami melalui banyak rintangan untuk menuju Cigombong. Angkot yang kami tumpangi harus mogok selama tiga kali. Apa salah satu dari penumpangnya membawa sial? Ternyata aki angkot tersebut bocor dan tidak bisa diperbaiki dengan waktu lima menit. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki *eh salah maksud saya mencari angkot pengganti hihi :D. Perjalanan dari tempat terakhir kami berhenti menuju Cigombong masih cukup jauh dengan jarak tempuh satu jam. Hmm.. karena saya sudah melewati jalan menuju Cigombong sebanyak dua kali (pada turun lapang sebelumnya dari KSHE) tidak ada alasan untuk saya tidak tidur. Dan keindahan sisi lain Bogor saya tinggalkan semata-mata untuk memejamkan mata. Terdengar sayup-sayup rasa kagum dari adek angkatan (KPM49) melihat Gunung Pangrango yang setengah ditutupi awan dan hawa yang semakin lama semakin dingin. Tapi dinginnya Cigombong tentu saja kalah dari dinginnya Sukagalih atau pun Bodogol hehe. Setelah melakukan perjalanan cukup jauh akhirnya kami sampai di Desa Srogol, Kp. Cisalopa.
YAAAAAAAAH!!

Teriakan kecewa kami keluarkan dengan suara keras. Bayangan kami tentang sawah, pohon, jalan setapak bertanah, lenyap sudah. Yang tersisa hanya Gunung Pangrango yang (benar-benar) muncul di balik pepohonan dari jarak jauh. Kecewa. Sedih. Untuk menuju Kp. Cisalopa RW 3 kami hanya melewati gang kecil yang di kanan-kirinya rumah dan bukan pohon, kemudian kami harus melewati jalan setapak semen dan bukan tanah, dan yaah untuk menuju rumah singgah kami harus terpaksa menggantikan harapan akan sawah hijau sepanjang perjalanan dengan banyaknya rumah model tua dengan ukuran yang bervariasi. Tidak apa, kami percaya Tuhan mengirimkan hal lain untuk mengindahkan cerita kami di Cisalopa.

Benar saja, di samping rumah yang kami singgahi terdengar arus sungai yang lumayan deras. Kami segera berlari melihat lebih dekat dan airnya cukup jernih untuk kami turun dan sekedar bermain sebentar. Namun sayang rasa lelah mengalahkan segalanya. Mungkin esok atau lusa untuk kami mengunjungi anak sungai Cisadane. Setelahnya kami langsung lemas di hadapan pemilik rumah dan saling mengenalkan diri. Ibu Henny adalah pemilik rumah yang kami singgahi. Beliau adalah istri dari Ketua RT 8 RW 3 Kp. Cisalopa, Bapak Kosasih. Pembawaannya yang lembut membawa ingatan kami kepada ibu masing-masing yang menunggu kami kembali. Sifat keiibuan dari Ibu Henny sangat diuntungkan, karena kami langsung disuguhi banyak makanan. Hehe sepertinya raut wajah kelaparan kami dengan mudah dibaca oleh pemilik rumah :D. Yah, karena tujuan kami di Cisalopa adalah untuk turun lapang maka sambil makan ada selentingan strategi yang harus dilakukan untuk turun lapang tahun ini.

Singkat cerita, kami mengunjungi banyak keluarga untuk membahas permasalahan masuknya minimarket di kawasan pedesaan. Pembawaan yang kami terima bermacam-macam. Mulai dari yang sangat terbuka hingga kami terkesima dalam diam dan ada juga yang harus kami korek untuk mereka terbuka dan dapat membuat kami terkesima. Tidak mudah memang untuk diterima di tempat baru dan kemudian mengorek-ngorek masalah yang mereka pandang bukan sebagai masalah.

Cerita menarik berangkat dari FGD pertama yang tanpa sengaja kami bentuk. Jumat sore itu kami dipersilahkan untuk mendengar cerita dari mereka yang sangat terbuka. Didalamnya terdapat lima orang pemuda dengan rentang umur 30-45 tahun. Kami menjadi sungkan karena kami begitu diterima tidak seperti di dua tempat lain. Kami lebih berperan sebagai pendengar dibandingkan sebagai pembicara. Sebenarnya itu tujuan utama kami di Cisalopa. Kami hanya perlu menjadi pendengar dan jangan banyak bicara. Jangan ada janji terucap untuk menjaga suasana. Selama FGD berlangsung saya dikagetkan oleh berbagai argumentasi membangun. Mereka memang hanya lulusan sekolah menengah atas tetapi pengalaman dan ilmu mereka tidak kalah dengan para pejabat yang mencicipi nikmatnya bangku kuliah. Kami dibuat tertegun atas masukan yang diberikan dan semua pendapat membangun yang dilontarkan. Tidak ada alasan kami untuk membela diri ketika mereka mengkritisi akademisi yang tidak arah tujuan. Dikatakan dengan jalas bahwa akademisi kebanyakan tidak tahu aturan. Tidak bermoral apalagi sopan santun. Walaupun hal itu bukan untuk kami tetapi sebagai akademisi kami turut tersudutkan. Ketika kami fokuskan pada topik pembicaraan, lagi-lagi argument yang diberikan sangat masuk akal. Mereka juga berjiwa sosialis dengan tidak serta mereka meninggalkan warung kecil dan beralih pada minimarket yang ada. Mereka tidak mau seperti banyak orang yang kacang lupa kulitnya. Prinsip yang kami dapat adalah hidup selaras dengan sesama. Saling tolong-menolong juga masih diterapkan di Cisalopa. Tidak ada konflik atau pun permusuhan. Semua tentang Cisalopa dengan mudah kami dapatkan dari FGD dadakan tersebut. Tapi saya tidak boleh mengulas semuanya disini karena loka karya hasil turun lapang belum dilaksanakan. Mungkin seberes loka karya saya akan membagikan catatan harian selama tiga hari di Cisalopa.

Saya merasa beruntung menjadi bagian dari Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Saya mendapat banyak pelajaran sebelum saya berlari semakin jauh mengejar asa. Bukankah untuk dikenal dunia, kita harus mengenal sebelumnya? Salah satu caranya adalah dengan mengenal masyarakat pedesaan. Banyak hal yang pasti teman-teman dapat ketika hidup bersama mereka. Cobalah untuk terus menjadi pendengar yang baik sebelum berharap untuk didengar. Sangat menyenangkan loh ketika kita bertemu orang baru dan saling berbagi pengalaman. Hanya satu yang harus kita lakukan yaitu untuk menjadi orang seperti gelas setengah penuh. Saya mencoba melakukannya dengan menjaga gelas saya terus terisi namun hanya setengah sehingga saya masih memiliki ruang untuk menangkap informasi lain tetapi tetap menyaring dengan pengetahuan yang saya miliki sebelumnya. Perumpamaan ini saya dapatkan dari buku yang pernah saya baca loh hihi.

Jangan pernah lupa pada masyarakat sekitar dan teruslah menjadi pendengar yang setia. Itu juga yang saya dapatkan dari turun lapang persosped tahun ini. Teruslah menjaga silaturahmi dengan sesama seperti yang diajarkan Cisalopa. Cisalopa punya cerita, dengan senang hati saya tuliskan.

Salam, delladiningtyas~
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s