Pengaruh Modernisasi Terhadap Pola Nafkah Pedesaan



MATA KULIAH PERUBAHAN SOSIAL DAN SOSIOLOGI PEDESAAN

Kelompok 15:

Adella Adiningtyas ;Ade Febriyanti ;Yulita Mega Aftari ;Iksan Maulana ;Putri Eksanika  ;Rahmah Hasanah ;Neneng Kartika ;Meilinda Lathfia ;Muhammad Ghifari          
                            
   
Asisten Pembimbing:
Putri Nadiyatul F                   (I34100017)




DEPARTEMEN  SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2013

 Pendahuluan
                Keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia menjadi daya tarik utama bagi dunia. Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia dapat dikategorikan sebagai negara terkaya. Sumberdaya alam yang mucul secara alami dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Lahan yang subur dengan sumber daya alam yang beragam membuat Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Dengan kekayaan alam yang dimilikinya, banyak isu mengenai keadaan lingkungan serta kehidupan masyarakat yang ada. Manusia menjadi bergantung dengan keadaan lingkungan sekitarnya. Hal ini yang membuat manusia harus beradaptasi karenanya.
Indonesia memiliki ciri khas kewilayahan pedesaan dan juga sektor pertanian yang menjadi sektor utama yang dikembangkan. Pedesaan yang identik dengan pertanian seharusnya dapat menjadi ladang penghasil uang karena mempunyai kontrubusi penting bagi perekonomian negara. Sektor pertanian selalu mendapat perhatian lebih dari pemerintah, masyarakat Indonesia dapat sejahtera dengan bergantung kepada pertanian. Masyarakat kita yang sebagian hidup di daerah pedesaan menjadi sorotan utama pemerintah.
Masyarakat desa memiliki kecenderungan sikap dan tindakan selaras dengan alam serta lingkungan sekitar.Begitu pula dengan sistem pencarian nafkahnya. Kepadatan penduduk juga mempengaruhi pola pencarian nafkah. Jumlah penduduk pedesaan yang semakin bertambah dan tidak diimbangi dengan ketersediaan sumber daya alam (yang berpotensi sebagai sumber nafkah), mengakibatkan perubahan struktur pendapatan umah tangga masyarakat di daerah pedesaan. Persaingan akan penguasaan sumber nafkah menjadi semakin ketat.

Desa  Srogolmerupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Desa Srogol terletak tiga kilometer dari ibukota kecamatan, 41 kilometer dari ibukota kabupaten/kota Bogor, dan 141 kilometer dari ibukota provinsi Jawa Barat. Jumlah penduduk di Desa Srogol adalah sebanyak 5.906 jiwa, dengan penduduk laki-laki dominan (51,6%) dan sisanya adalah penduduk perempuan (48,4%). Desa Srogol terdiri atas enam RW dan 18 RT, masing-masing RW memiliki kampung masing-masing. Sebaran mata pencaharian cukup merata, dengan mayoritas penduduk bekerja di sektor swasta yakni sebesar 34,70%. Penduduk perempuan yang bekerja di sektor swasta lebih banyak jika dibandingkan dengan laki-laki yaitu 21,57%. Penduduk perempuan pada umumnya bekerja sebagai buruh pabrik garmen dan tekstil. Mata pencaharian kedua setelahnya adalah adalah sebagai petani dan buruh tani (Tjaja,2000). Walaupun sebaran mata pencaharian di Desa Srogol merata dan masih dikatakan sebagai desa pertanian, tetapi pada lokasi penelitian kami di Kampung Cisalopa RW 03 tidak demikian. Penduduk sekitar RW 03  sebagian besar berprofesi sebagai buruh pabrik dan membuka usaha sendiri seperti warung.  Tidak ada satupun dari warga RW 03 yang bekerja di sektor pertanian. Hal ini disebabkan sudah tidak adanya lahan pertanian di sekitar Desa Cisalopa. Kesempatan bekerja sebagai buruh pabrik garmen dan tekstil semakin luas. Semakin mudahnya untuk bekerja di sektor swasta dan kecenderungan membuka usaha sendiri merupakan salah satu dampak dari modernisasi. Masuknya modernisasi juga semakin membuka akses transportasi, komunikasi, pendidikan, kesehatan dan berubahnya sistem produksi mengubah kondisi kehidupan masyarakat baik dari segi ekonomi maupun sosial. Hal tersebut menyebabkan terjadinya perubahan strategi nafkah warga Desa Cisalopa RW 03 yang menjadikan warga cenderung lebih konsumtif. Dalam penelitian ini, penulis mencoba menganalisis perubahan strategi nafkah yang berpengaruh pada perubahan gaya hidup masyarakat Kampung Cisalopa RW 03 sebagai dampak masuknya modernisasi dalam mengubah staregi nafkah.

Metode Penelitian
Penelitian dilakukan di Kampung Cisalopa, Desa Srogol, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada tanggal 20-22 Desember 2013. Sasaran penelitian adalah pemilik warung dan warga sekitar RW 03 Kampung Cisalopa, Desa Srogol. Metode yang akan digunakan dalam pengumpulan data adalah pengamatan langsung, wawancara tidak terstruktur termasuk wawancara mendalam, dan studi literatur. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan dan wawancara yang mendalam dengan para responden dan informan. Data sekunder diperoleh melalui literatur-literatur dan berbagai pustaka untuk menganalisis femomena yang muncul. Pengamatan langsung dilakuk terhadap warga desa dan para petani yang menjadi fokus perhatian penelitian ini. Pencatatan hasil dilakukan dengan bantuan alat rekam elektronik dan foto. Wawancara tidak berstruktur atau wawancara yang tidak menggunakan panduan pertanyaan sekaligus wawancara mendalam untuk mendapatkan data kualitatif. Studi literatur dilakukan untuk mendapatkan data sekunder sebagai pendukung dalam penelitian serta untuk memperkuat konsep-konsep yang akan digunakan untuk melihat fenomena yang ada di lapangan.

Perubahan Strategi Nafkah RW 03 Kampung Cisalopa
 Masyarakat dalam rangka mempertahankan hidup atau meningkatkan pendapatan, rumahtangga melakukan strategi nafkah dengan membentuk pola-pola tertentu. Pendapatan rumahtangga diartikan sebagai keuntungan yang akan diterima rumah tangga jika rumah tangga melakukan aktivitas nafkah. Pendapatan itu sendiri dibagi menjadi tiga kategori (Saith, 1992: Leones dan feldman (1998) dalam Ellis (2000) dalam Purnomo, (2009). Pertama, pendapatan pertanian. Pendapatan pertanian mengacu pada pendapatan yang diperoleh dari pertanian yang diperhitungkan sendiri seperti dari bahan milik sendiri, atau lahan yang diperoleh melalui pembelian tunai atau bagi hasil. Kedua pendapatan off-farm, pendapatan off-farm mengacu pada upah atau pertukaran tenaga kerja dengan pertanian lain. Ini termasuk upah tenaga kerja dalam bentuk lain seperti upah barang dalam bentuk padi atau perjanjian upah kerja yang lain. Ketiga, pendapatan non pertanian (non-farm income) mengacu pada sumber pendapatan di luar pertanian. Hal ini tentunya berkaitan dengan berbagai faktor yang mempengaruhi mata pencaharian penduduk wilayah tersebut. Berikut merupakan penjabaran dari kondisi pola nafkah yang terjadi di RW 03 Kampung Cisalopa:

§                 Sejak berdirinya pabrik-pabrik industri di tahun 90an, masyarakat di RW 03 Kampung Cisalopamulai beralih mata pencaharian dari bidang pertanian ke bidang non pertanian. Beberapa kategori pendapatan di luar pertanian adalah (1) upah di luar pertanian desa atau gaji pekerja, (2) usaha di luar pertanian milik sendiri sering disebut pendapatan bisnis, (3) pendapatan sewa dari menyewakan lahan atau pemilikan lain, (4) remittances dari urban di dalam negeri, (5) transfer dari urban yang lain seperti pendapatan pensiunan dan (6) remittances yang berasal dari internasional (Purnomo 2009).

      Pabrik-pabrik industri ini mampu menyerap tenaga kerja sebagai buruh yang mayoritas yang terserap menjadi buruh adalah perempuanHal ini menyebabkan pergeseran peran dalam rumah tangga pedesaan. Para buruh perempuan pada umumnya juga didorong oleh ekspetasi ekonomi melalui peningkatan pendapatan. Aktivitas domestik seperti memasak dan mengurus anak pun bukan lagi perihal utama yang wajib mereka selesaikan, namun suamilah yang banyak berperan.  Pada kasus ini, buruh perempuan mampu menghasilkan upah di luar pertanian desa atau gaji pekerja.

§               Perubahan startegi nafkah dari sektor pertanian ke sektor swasta disebabkan beberapa faktor. Carner (1984) dalam Widodo (2011) menyatakan bahwa terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh rumah tangga miskin pedesaan antara lain: (1) melakukan beraneka ragam pekerjaan meskipun dengan upah yang rendah, (2) memanfaatkan ikatan kekerabatan serta pertukaran timbal balik dalam pemberian rasa aman dan perlindungan, dan (3) melakukan migrasi ke daerah lain biasanya migrasi desa-kota sebagai alternatif terakhir apabila sudah tidak terdapat lagi pilihan sumber nafkah di desanya.
Merujuk dari keragaman pola nafkah rumah tangga pedesaan, selain menjadi buruh ada pula penduduk lokal yang berdagang di pasar atau berjualan di warungnya sendiri. Mereka menerapkan strategi ikatan kekerabatan serta pertukaran untuk rasa aman dan perlindungan. Ini sesuai dengan hasil wawancara kami dengan Bapak Darman, salah satu pedagang di pasar. Semenjak lulus SMA, Pak Darman ikut dengan pamannya berjualan buah dan sayur di pasar. Rutinitas itu ia jalani selama kurang lebih lima tahun. Setelah mendapatkan pengalaman dan merasa mampu berdiri sendiri, akhirnya Pak Darman mendirikan kiosnya sendiri. Kini ia telah memiliki dua buah kios. Kios buah-buahan yang ditangani sendiri dan kios sayur-mayur yang diurus oleh pegawainya.

§       Menurut Iqbal (2004) dalam Paulina, dkk (2009) terdapat “Pola/strategi nafkah berserak”. Strategi ini dikembangkan tergantung ketersediaan waktu dan tenaga yang tersedia, misalnya menjadi buruh bangunan, buruh pabrik, tukang bangunan, membuka bengkel, warung sembako, warung makan, sopir angkutan umum, ojek, dan sebagainya. Terkait teori tersebut, strategi pola nafkahdi RW 03 Kampung Cisalopatermasuk ke dalam “serakan waktu”, artinya bahwa waktu yang diperlukan dalam pencaharian nafkah tidak lagi bersifat konstan dan menentu, tetapi terkait dengan kesempatan dan peluang pada mata pencaharian lainnya.
Kemunculan pabrik-pabrik industri pun memberikan peluang pada penduduk lokal untuk mencari nafkah dari usaha di luar pertanian milik sendiri yang sering disebut pendapatan bisnis[1]dengan mendorong kemunculan warung-warung kecil. Warung-warung kecil tersebut berfungsi untuk memenuhi kebutuhan para pegawai pabrik terutama dalam hal pangan, namun seiring berjalannya waktu, warung-warung itu berkembang dan akhirnya menjadi sumber pendapatan bagi beberapa orang. Contohnya saja Ibu Herni salah satu pemilik warung di RW 03 Kampung Cisalopa yang telah memiliki usaha warung selama 2 tahun, menjalani usahanya ada suka dan duka yang ia rasakan. Seperti halnya dalam masalah utang-piutang. Itu pula yang dirasakan oleh Bu Herni, di akhir bulan warga yang berpenghasilan rendah biasanya kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, untuk menanggulangi hal tersebut mereka melakukan transaksi jual-beli namun tidak membayar pada saat itu. Hal inilah yang disebut sebagai berutang, namun utang tersebut mereka lunasi setelah mereka mendapatkan gaji di awal bulan.

     Adapula Ibu Siti Aisyah yang berstatus single parent. Hal itu kemudian membuat beliau memiliki peran ganda dalam kehidupan rumah tangganya. Selainbeliau harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan  di sisi lain beliau pun tidak bisa meninggalkan anak-anaknya sehingga beliau berinisiatif untuk memiliki usaha warung. Usahanya ini baru dirintis selama satu tahun. Beliau berharap dengan membuka warung dirumahnya hal-hal yang terkait dengan perannya dalam rumah tangga yaitu sebagai pencari nafkah dan sebagai seorang ibu yang berkewajiban untuk menjaga anak-anaknya dapat dilakukan dengan baik.

Pengaruh modernisasi terhadap strategi nafkah warga RW 03 Kampung Cisalopa
Menurut Everret Rogers, modernisasi merupakan proses dengan mana individu berubah dari cara hidup tradisional menuju gaya hidup yang lebih kompleks dan maju secara teknologi serta cepat berubah. Black mendefinisikan modernisasi sebagai proses dengan mana secara historis lembaga–lembaga yang berkembang secara perlahan disesuaikan dengan perubahan fungsi secara cepat dan menimbulkan peningkatan yang belum pernah dicapai sebelumnya dalam hal pengetahuan manusia, yang memungkinkannya untuk menguasai lingkungannya, yang menimbulkan revolusi ilmiah (Abraham, 1991).[2]
Modernisme adalah sebuah proses yang terus berlangsung dari masa ke masa dan menghasilkan berbagai produk berupa pola hidup, kebudayaan dan banyak aspek lainnya. Fenomena modernisme, yang diyakini sebagai pilihan tepat membebaskan manusia dari situasi ketertinggalan, keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan, meski dalam arti terbatas menunjukkan kemajuan yang cukup spektakuler, tetapi juga menyisakan persoalan-persoalan yang cukup rumit dan kompleks. Penggunaan rasio melahirkan kemajuan iptek yang menjadi embrio ekspansi wilayah (imperialisme) dan kononialisme. Modernisme, dengan demikian, disamping menawarkan kemudahan-kemudahan bagi manusia, juga memproduksi model-model belenggu baru yang jauh lebih dahsyat. Peter L. Berger mengisyaratkan bahwa modernisme yang dicirikan oleh kemajuan iptek tidak lebih dari ideologi yang menutup-nutupi kenyataan imperialisme, eksploitasi, dan ketergantungan. Justifikasi pernyataan Berger ialah kenyataan lahirnya korelasi a-simetris antara bangsa barat yang menguasai dan mendominasi iptek dengan seperangkat nilai budayanya dengan bangsa Timur yang diberi atribut: underdeveloped countries yang diperhalus dengan istilah developing countries.[3]Modernisasi saat ini dialami oleh negara-negara berkembang dari kota sampai ke tingkat terkecil seperti desa. Desa saat ini mengalami perubahan sosial dan budaya akibat modernisasi yang cepat di era globalisasi karena teknologi komunikasi dan informasi yang semakin canggih seperti yang terjadi di Kampung Cisalopa, Desa Srogol, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Di Kampung Cisalopa mengalami modernisasi dan perubahan gaya hidup. Gaya hidup adalah hal yang paling berpengaruh pada Sikap dan Perilaku seseorang dalam hubungannya dengan tiga hal utama dalam kehidupan yaitu  pekerjaan, persahabatan, dan cinta.[4] Di Kampung ini tepatnya pada RW 03 mengalami perubahan gaya hidup pekerjaan dahulu penduduknya bekerja sebagai pekerja serabut, ibu rumahtangga, dan berkebun. Seiring berjalannya waktu, matapencaharian penduduk RW 03 ini berubah menjadi buruh pabrik. Terdapat banyak buruh yang kerja di pabrik-pabrik yang berada di Kecamatan Cigombong. uniknya di Kampung ini yang bekerja sebagai buruh pabrik adalah kaum wanita, karena menurut warga setempat, kaum wanita lah yang berkriteria cocok di pabrik-pabrik tersebut, kaum wanita juga memiliki kreatifitas yang tinggi untuk bekerja di pabrik-pabrik tersebut. sedangkan kaum laki-laki nya pekerja serabut dan sebagian dari mereka juga ada yang menjadi buruh. Selain bekerja menjadi buruh pabrik dan pekerja serabut di kampung Cisalopa RW 03 ini juga banyak yang berwirausaha. Terdapat  banyak warung-warung kecil yang ada di sekitar RW 03 ini. Di warung-warung ini para penjual, menjual dagangannya bernekaragam, seperti sembako, jajanan-jajanan anak kecil, pokonya warung-warung ini menjual kebutuhan rumahtangga RW 03. Warung-warung kecil ini biasanya membeli bahan-bahan belanjaanya di pasar tradisional Cigombong. lalu belanjaannya di perjual kepada warga RW 03 di Kampung Cisalopa.
Warung-warung kecil ini menjadi sumber kebutuhan warga RW 03 Kampung Cisalopa. Dalam memenuhi kebutuhan rumahtangganya warga RW 03 sering berbelanja di warung-warung kecil ini, terkadang jika tidak memiliki uang warga Rw 03 Kampung Cisalopa ini terpaksa untuk mengutang di warung-warung kecil ini, lalu jika sudah punya uang baru mereka membayarnya. Pemilik warung pun tidak berat hati untuk mengutangkan dagangannya karena mereka ingin membantu warga yang memang tidak mempunyai uang lebih, jadi pemilik warung sudah terbiasa untuk mengutangi dagangannya, walaupun ada sedikit kerugian namun pemilik warung tidak berkeberatan dengan adanya utang piutang tersebut.
Sekitar tahun 2011, terdapat pembangunan minimarket yang bertempat tinggal di Kampung Cisalopa, Desa Srogol, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Awal mula ada nya minimarket yaitu adanya lahan kosong yang sudah di beli oleh pihak minimarket, lalu pihak minimarket meminta izin kepada RT, lurah, kecamatan, dll untuk membangun minimarket tersebut, selain itu pihak minimarket juga bersosialisasi kepada warga sekitar dan kepada warung-warung kecil.

Minimarket tersebut menjual barang-barang kebutuhan rumahtangga. Sejak adanya minimarket ini warga menjadi sering berbelanja bulanan di minimarket. Menurut warga sekitar, kebutuhan rumahtangga yang ada di minimarket ini cukup lengkap dan terdapat promosi-promosi yang cukup murah, jadi warga suka berbelanja bulanan di minimarket tersebut. Dengan adanya minimarket ini warga pun tidak harus jauh-jauh ke pasar tradisional untuk membeli kebutuhan bulanan rumahtangganya. Walaupun adanya minimarket, namun warga masih tetap sering membeli kebutuhan rumahtangganya di warung. Hal ini di karenakan warung-warung kecil bisa di utang jika warga tidak mempunyai uang, sedangkan di minimarket warga tidak bisa mengutang dan jika berbelanja di minimarket warga harus memiliki uang lebih.

Dampak perubahan gaya hidup (atas berubahnya stretegi nafkah) terhadap keadaan warung di RW 03 Kampung Cisalopa
     Setelah pengaruh moderanisasi yang dicirikan oleh kehadiran pabrik-pabrik kapitalis yang berada tidak jauh dari Kampung Cisalopa. Kini pengaruh modernisasi secara matrealistis semakin terasa ketika Minimarket hadir. Minimarket merupakan jaringan Minimarket yang menyediakan kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari (Wikipedia 2013). Dengan hadirnya Minimarket jelas mempengaruhi pola belanja masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-harinya. Sebelum kehadiran Minimarket, warung-warung kecil dan pasar menjadi tempat yang urgen harus dituju jika masyarakat ingin mendapatkan kebutuhan pokok yang mereka inginkan. Namun setelah hadirnya Minimarket, membuat masyarakat mempunyai pilihan tempat berbelanja yang lebih variatif. Dengan variasi tempat belanja ini juga dapat menunjukan kemampuan berbelanja masyrakatnya.

     Dari hasil pengamatan selama tiga hari, masyarakat dapat terbagi atas dua lapisan, lapisan atas dan lapisan bawah. Secar kemampuan belanja, lapisan atas ialah masyarakat yang sering berbelanja di Minimarket dengan intensitas sesering mungkin. Mereka mencukupi kebutuhan sehari-harinya dengan solusi praktis langsung membeli barang kemasan yang sudah dijajakan di Minimarket. Mereka tidak peduli dengan harga yang sudah ditentukan disana karena mereka memang mampu untuk membelinya. Dan masyarakat pada lapisan ini sudah jarang ditemui berbelanja pada warung-warung kecil. Sedangkan masyarakat lapisan bawah ialah masyarakat yang mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan berbelanja di warung-warung kecil dan pasar. Hal ini beralasan karena tempat berbelanja tersebut dapat dihutangi. Kemampuan mereka membayar setiap hari belanjaannya tidak dapat dipenuhi karena upah yang mereka terima itu harus ditunggu selam satu bulan. Maka dari itu, warung-warung kecil merupakan tempat yang pas karena dapat dihutangi. Selain itu, takaran barang-barang yang ada pada warung tersebut sesuai dengan kebutuhan sehari-hari karena bersifat eceran. Warung-warung kecil masih menjual barang-barang dengan takaran yang kecil seperti takaran 250 gram terigu yang tidak dapat dijumpai di Minimarket. Selain itu harga eceran menjadi penting karena kebutuhan dapat disesuaikan dengan daya belinya. Bayangkan jika masyarakat lapisan bawah ini belanja di Minimarket. Meraka membeli harga dengan takaran besar yang mereka tidak butuhkan, misalnya mereka butuh kopi hanya satu sachet atau rokok satu batang. Jika mereka berbelanja di Minimarket mereka harus membeli kopi dalam satu pak atau rokok satu bungkus, padahal mereka tidak membutuhkan dengan jumlah sebanyak itu. Maka dari itu pengaruh yang nyata ialah perubahan masyarakat ke arah yang konsumtif. Mereka terus mengkonsumsi barang-barang yang tidak diperlukan tersebut karena dianggap lebih keren atau dapat menigkatkan prestige. Hal ini beralasan karena pengaruh modernisasi yang dirasakan bahwa Minimarket dianggap tempat modern yang lebih nyaman dan terlihat bagus secara interior dan eksterior.

    Dengan hadirnya Minimarket hilangnya cirri-ciri pedesaan yang sudah melekat lama pada masyarakat Indonesia. Ini merupakan hegemoni[5]yang dikhawatirkan hadir dan melanda kampung cisalopa khususnya dan di Indonesia umumnya. Karena perinsip retiel waralaba seperti Minimarket ialah mereka tidak hadir di Kampung Cisalopa saja namun melanda ke semua daerah ang lebih luas. Dalam kajian ini, dapat dilihat khawatiran hilangnya ciri-ciri tersebut dapat dilihat pada:

1.       Hialngnya masyarakat yang subsisten
Dahulu masyarakat dapat mencukupi kebutuhan pokoknya dengan mengambil hasil pertanian mereka. Seperti halnya mereka mendapatkan beras dari hasil padi yang mereka tanam. Mereka harus mempunyai lahan pertanian sebagai media tanamnya. Mereka pun harus bertani untuk mendapatkan beras tersebut. Bayangkan dengan adanya Minimarket, beras cukup mudah didapatkan hanya dengan mengeluarkan uang untuk membeli beras pilihan yang mereka inginkan. Hal ini cukup mengkhawatirkan karena dengan begitu lahan pertanian dikhawatirkan akan terus berkurang karena kemudahan mendapatkan beras di Minimarket tersebut. Mereka pun tidak harus bertani untuk mendapatkan butiran mereka tersebut, mereka perlu mencari pekerjaan yang menghasilkan uang untuk membeli kebutuhan beras tersebut. Dan solusi tercepat dan mudah ialah menjadi buruh pabrik. Maka sistem perokonomian Indonesi akan mudah didikte dan dihancurkan. Jika negara eksportir beras ingin menghancurkan Indonesia, maka hancurkan lah Minimarket, karena sekarang disana lah beras ada dan mudah didapat. Ini lah sesungguhnya kekhawatiran yang lebih besar terhadap bangsa ini yang tidak disadri oleh msayarakat Kampung Cisalopa.

2.       Lunturnya sistem resiprositas
Masyarakat Kampung Cisalopa yang sebagian besar adalah buruh pabrik sangat bergantung pada upah yang mereka terima setiap bulannya. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan yang bekerja sebagai buruh tersebut. Dari itu, kemamuan fisik perempuan yang tidak sekuat dan sebugar lelaki mempengaruhi produktivitas kerjanya. Maka dari itu upah mereka sangat pas-pasan untuk mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari. Maka mereka sangat mencukupi kebutuhan pokoknya di warung-warung kecil. Hal ini beralasan, karena warung kecil takarannya sesuai dengan daya beli masyarakat tersebut. Dan yang terlebih lagi sifat saling tolong-menolong tersebut dapat diberikan dengan cara memberikan hutang kepada pembeli yang pengahsilannya setiap bulan tersebut. Pemilik warung sangat faham dan mau menolong dengan mengijinkan pembayaran dilakukan tidak setiap hari melainkan boleh setiap bulan. Hal ini lah yang tidak dapat di berikan oleh Minimarket. Dengan sistem bandrol tanpa tawar-menawar yang diberikan membuat masyarakat harus membayar tunai ke kasir untuk membeli barang yang mereka inginkan. Tidak ada belas kasih dari sistem belanja semacam ini. Bahkan takaran yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan harian melainkan bulanan. Selain itu pula, orang-orang yang mempunyai dianggap mampu secara finansial pun tidak dapat membatu mengembangkan perekonomian sekitar. Karena mereka cenderung berbelanja di Minimarket bukan di warung-warung kecil.


3.       Hilangnya sistem retridibusi
Warung-warung kecil selain menjadi tempat mencukupi keperluan pokok juga sebagai indikator kemapuan ekonomi masyarakat. Dengan intensitas pembeli di warung yang menurun, mengakibatkan masyarakat menjadi sulit mengetahui orang yang perlu memberi pertolongan dan orang yang membutuhkan pertolongan. Contohnya saja zakat, masyarakat tersamarkan orang yang menjadi mustahik dan mudzaki, dan yang mendapat zakat dan memberi zakat. Karena dalam catatan struk di Minimarket tidak diketahui apakah dia mampu atau tidak. Namun dengan penglihatan di warung kecil terlihat orang yang mampu dan tidak. Selain itu, jika penghasilan warung berkurang maka berkurang peghasilan si pemilik warung dan orang yang menitipkan barang dagangannya diwarung. Maka berkurang juga kemampuan berzakat mereka dan berkurang juga zakat yang diterima oleh mustahik.          
    
Kesimpulan dan Saran
   Perubahan strategi nafkah akibat masuknya modernisasi dapat mempengaruhi gaya hidup warga RW 03 Kampung Cisalopa menjadicenderung konsumtif dalam pemenuhan kebutuhan bulanan, disebabkan olehmasuknya sektor swasta berbentuk minimarket.Pendapatan yang meningkat didapatkan dari pekerjaan menjadi buruh di pabrik, membuka usaha warung ataupun karyawan. Hal ini merupakan salah satu pengaruh dari modernisasi yang masuk di kawasan RW 03 Kampung Cisalopa. Modernisasi juga mengakibatkan berubahnya cirri-ciri pedesaan yaitu, hilangnya masyarakat subsisten, luturnya sistem reprositas dan hilangnya sistem redistribusi. Kecenderungan konsumtif tersebut kemudian juga berdampak pada berkurangnya pemasukan yang diterima oleh warga yang membuka usaha warung. Perubahan gaya hidup dikhawatirkan dapat merubah kembali tatanan strategi nafkah warga RW 03 menjadi pengagguran karena banyaknya usaha warung yang gulung tikar. Pemenuhan kebutuhan hidup menjadi terhambat karena sulitnya bersaing dengan minimarket.


DAFTAR PUSTAKA

Paulina P, Tulak, Arya H.D., dan Bambang Juanda. 2009. Struktur Nafkah Rumahtangga Petani Transmigran (Studi Sosio-Ekonomi di Tiga Kampung di Distrik Masni, Kabupaten Manokwari). Sodality. Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi, dan Ekologi Manusia. Vol. 02, No. 03 tahun 2009. Hlm 213-230.. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Purnomo A.M. 2006. Strategi Nafkah Rumahtangga Desa Sekitar Hutan (Studi Kasus Desa Peserta PHBM di Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat). Bogor: Tesis Pasca Sarjana IPB Bogor.
Tjaja R.P. 2000. Wanita Bekerja dan Implikasi Sosial. Jakarta. [diunduh 2014 Januari 12]. Tersedia pada http://www.bappenas.go.id/files/6513/5228/3053/ratna__20091015151137__2386__0.pdf
Widodo Slamet. 2011. Strategi Nafkah Berkelanjutan Bagi Rumah Tangga Miskin di Daerah Pesisir. Jurnal Makara, Sosial Humaniora. 15 (1): 10-20 [diunduh 2013 Desember 18]. Tersedia pada http://journal.ui.ac.id/index.php/humanities/article/viewFile/890/849


[1] Purnomo (2009)
[2] Abraham, M. Francis. 1991. Modernisasi di Dunia Ketiga Suatu Teori Umum Pembangunan (diterjemahkan oleh M. Rusli Karim). Yogyakarta: PT Tiara Wacana.
[3] Husain, W. 2011. Modernisasi dan Gaya Hidup. Dapat diunduh dari http://altajdidstain.blogspot.com/2011/02/modernisasi-dan-gaya-hidup.html, pada tanggal 11 Januari 2014, pukul 12.22 WIB
[4]Adler, Alfied. 2005. Perubahan Gaya Hidup. Jakarta PT. Gramedia
[5] Hegemoni adalah Teori Antonio Gramsci, neo marxis dari Italia, menurutnya hegemoni adalah salah satu upaya menguasai pihak lain tanpa dirasa dan disadari oleh pihak tersebut dalam waktu yang tertentu. Umumnya penguasaan dalam ideologi, budaya, ekonomi dan politik 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s