Hujan Adalah Berkah

Teriinspirasi dari tulisan Dosen KPM IPB, Pak Arya Hadi Dharmawan 🙂

Pagi ini Bogor kembali diberi hujan yang tiada henti. Sudah hampir satu minggu Bogor  diberkahi oleh air hujan yang terus mengalir. Tidak ada kata permisi dan sampai jumpa, hujan itu datang lagi. Ya, namanya juga Bogor, Kota Hujan, maka kita akan seperti orang bodoh jika mengutuk hujan yang turun. Hanya buang-buang waktu dan tenaga saja jika kita berkeluh kesah tanpa arah hanya karena hujan yang turun.

Hujan adalah berkah, setidaknya itulah yang diajarkan oleh guru saya di bangku sekolah dulu. Hujan itu membawa kedamaian dan ketenangan memang. Saya merasakan berkah itu dan saya adalah orang yang menantikan datangnya musim penghujan. Musim penghujan itu membawa sejuta cerita dan canda tawa. Semua itu dapat diperoleh dengan hati suka cita. Anak-anak yang berlari-larian di tengah lapang dengan baju kebasahan dan membawa payung. Lucu bukan? Apakah kalian tidak merasakan kebahagiaan disana? Apakah hati kalian sudah tertutupi rasa kesal karena hujan?

Musim kemarau tidak selalu menyenangkan. Bogor semakin panas karena kurangnya Ruang Terbuka Hijau. Hutan kota semakin terbatas dan tidak diperluas. Lalu apa yang kalian harapkan dari datangnya kemarau? Apakah karena kemarau tidak akan banjir? Tetapi bukankah kita sendiri yang menyebabkan banjir di penghujan? Konversi lahan semakin meningkat. Pembangunan dimana-mana tanpa memikirkan keaadan lingkungannya. Tanah resapan air dibor semakin dalam untuk dibuat fondasi bangunan yang kuat. Hutan dibabat habis tanpa tersisa yang kemudian kayu-kayu dijual untuk kebutuhan luar negeri sedangkan anak bangsa dalam negeri dilupakan. Apa lagi yang kalian inginkan?

Penghujan akan berakhir tetapi tidak hari ini. Berhentilah mengeluh dan ambil hikmah dari segalanya. Rasakan bagaimana jika kita menjadi air yang berkunjung tetapi dihina karena kita tidak menyukainya. Sedangkan mereka tidak tahu kemana harus mengalir. Tanah resapan sudah semakin hilang, selokan atau sungai sekalipun dipenuhi sampah, lalu dimana tempat untuk air yang membawa keberkahan itu?

Saya diajarkan oleh kedua orangtua saya untuk hemat air. Hal serupa dikatakan oleh dosen saya, Pak Arya Hadi D, ketika beliau mengisi di jam mata kuliah Ekologi Manusia, bahwa kita adalah orang yang merugi. Kita tidak tahu bagaimana memanfaatkan situasi. Seharusnya air hujan itu kita tampung untuk kebutuhan di kemudian hari, bukan malah kita biarkan dia pergi ke tempat kotor banyak sampah seperti sekarang. Air hujan memang tidak bersih tetapi itu lah fungsinya mahasiswa yang bisa berinovasi membuat alat penyaringan air hujan dengan harga terjangkau.

Mata kuliah Ekologi Manusia telah mengajarkan saya banyak hal. Saya semakin menyadari ketidakseimbangan yang terjadi. Kita hidup di bumi ini tidak sendiri. Bukan hanya manusia yang boleh menikmati semua keindahan dan kekayaan bumi ini. Jangan terus merasa kita tidak butuh alam dan hanya memikirkan materi semata. Sehingga kita lupa sejatinya hidup di dunia. Ya, mungkin alasan materi yang membuat kita lupa segalanya. Hingga akhirnya kita berada dalam hubungan yang menghawatirkan, manusia dan alam terhubung dalam relasi konfliktual. Kita harus bisa menjadi lebih peka terhadap keaadan sekitar kita untuk terus mempertahankan kelestarian yang ada. Jika rusaknya lingkungan sekitar karena kesalahan kita di masa lalu, maka sekarang waktunya untuk kita mengubah sejarah. Tunjukan kepedulian terhadap sesama, manusia, alam, hewan dan makhuk tidak hidup sekalipun. Kita mulai untuk mengahargai apa yang ada di sekeliling kita, karena kita tidak sendiri :).
Salam,

@delladiningtyas
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s