Tiga Satwa di KBS Mati (Lagi)

Baru kemarin saya menulis tentang satwa malang yang hidup di KBS berujung pada kematian. Ada harap bahwa kijang betina yang kemarin mati adalah yang terakhir untuk tahun ini. Tetapi nyatanya tidak demikian. Satu per satu satwa yang hidup di KBS menemui ajalnya yang mungkin lebih cepat. Sedih rasanya ketika saya tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya bisa menulis keluh kesah melalui jejaring media sosial dan berharap teman-teman membaca kemudian dapat saling bertukar pikiran apa yang harus kita lakukan selanjutnya.
 
Ternyata di hari yang sama ketika kijang betina mati, pukul 11.00 WIB ditemukan Komodo mati di dalam sangkar peraga. Komodo merupakan salah satu koleksi yang ada di KBS yang juga merupakan satwa dilindungi karena hampir punah ditemukan mati dengan lidah yang menjulur keluar. Diceritakan bahwa petugas KBS akan memberi makan Komodo tersebut, namun ketika makanan diberikan badan komodo sudah tidak bergerak lagi. Ya, komodo sudah ditemukan dalam keadaan mati jadi tidak ada pertolongan yang dapat diberikan oleh petugas setempat.
Pihak KBS sampai sekarang belum mengetahui penyebab pasti kematian komodo. Mereka menduga kematian komodo karena adanya gangguan pencernaan. Organ dalam komodo itu seudah dibawa ke Universitas Airlangga untuk diotopsi lebih lanjut. Dan proses otopsi tersebut juga dilakukan bersamaan dengan kijang betina yang telah mati lebih dahulu. Terlihat bahwa usus komodo tersebut berwarna merah.
 
“Di usus dan lambungnya kosong. Artinya sebelum makan ternyata sudah mati lebih dulu. Di ususnya juga terlihat sangat merah,” ujar petugas operasional KBS dokter Liang Kaspe.
 
Liang Kaspe mengakui (berita dalam Metrotvnews.com) selama ini komodo tersebut tidak sakit dan tidak ada tanda-tanda mengalami gangguan. Namun, tiba-tiba, saat hendak diberi makan dia tidak mau, dan tak sampai lama setelah itu sudah tewas.
 
Kesalahan Manajerial KBS
 
Sabtu, 1 Februari 2014, adalah hari kelabu untuk KBS. Diketahui bahwa 3 satwa tewas dalam waktu 24 jam. Dimulai dari kijang betina, komodo dan disusul rusa bawean jantan. Rusa bawean jantan mati di tempat karantina satwa. Rusa tersebut memang sedang mengalami perawatan karena sakit pada bagian kaki. Sakitnya kaki rusa diduga karena usah untuk melompat ke kandang sebelah. Petugas kemudia meangmputasi kaki dari rusa tersebut dan dibawa ke bagian karantina satwa. Namun nahas akhirnya rusa bawean jantan itu harus mati.
Ketiganya mati tanpa sengaja. Ditemukan juga dalam keadaan tidak sengaja. Entah itu dalam perawatan ataupun ketika akan memberi makan. Apa yang salah dari semuanya? Apakah ada yang salah dalam sistem manajerial dalam KBS? Mugkin perlu dibenahi dari dalam karena kami orang luar tidak memiliki wewenang untukmengutak-atiknya. Mencoba perbaiki dari jadwal pembersihan kandang, memberi makan dan atau penjadwalan pemberian vaksin untuk kesehatan.
 
Mungkin KBS perlu mencontoh sistem manajerial ragunan yang akan menutup kegiatan wisata untuk hari senin. Hal ini dilakukan agar satwa yang berada didalamnya tidak merasa stress dan dapat beristirahat selayaknya manusia yang memiliki akhir pekan. Ya, kita tidak sendiri hidup di dunia ini. Jangan menjadi antrophosentries dan mengganggap manusia adalah segalanya atas alam dan semesta. Berlaku lah adil kepada mereka yang ada di sekitarnya. Jangan pernah sekali-kali membangunkan macan yang sedang tidur karena kita akan terkena dampaknya.
Semoga tidak ada lagi satwa yang harus mati karena tidak diurus. “Semoga” itu hanya dalam harap dan saatnya untuk bertindak!
Salam,
@delladiningtyas
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s