Preman Berseragam

Dear Pak Polisi, apa kabar? Sudah berapa banyak uang yang bapak dapatkan hari ini dari supir angkutan umum kota (angkot) karena kesalahannya? Dan sudah berapa banyak orang yang bapak rampas uangnya untuk keluarga mereka di rumah?

Disini aku ingin sedikit bercerita tentang bapak. Disini aku ingin membagi suka duka setelah mengenal banyak tentang bapak dari mereka. Dan disini aku harap bapak lebih berhati-hati dalam berprilaku….

Selasa minggu ini aku jalani seperti selasa sebelumnya. Kuliah hari ini dimulai pukul 8 pagi dan usai pada pukul 3 sore. Setelahnya aku pergi ke Bara untuk memesan cinderamata untuk pembicara pada program kerja BEM FEMA yang sedang aku jalani. Tidak ada perjumpaan dengan bapak pagi ini di sepanjang jalan Dramaga karena jalanan pagi ini cukup lancar. Kita juga tidak melakukan interaksi seperti polisi dengan pengendara kendaraan lainnya. Tetapi ada satu cerita yang membuat aku begitu membenci bapak malam ini. Cerita ini datang dari seorang teman yang mengalami langsung kejadian memalukan tersebut.

Indah bercerita, kala itu sore hari dengan keadaan Bogor yang sedang hujan rintik. Hari Sabtu yang seharusnya dijalani dengan penuh suka cita karena bisa menikmati istirahat setelah menjalani hari-hari penuh siksaan dengan tugas harus dijalani berbeda olehnya. Indah hendak pergi ke bagian kota sore itu. Dia menaiki angkot jurusan Kampus Dalam dari tempat tinggalnya, sayangnya ia tidak diantarkan sampai tujuan, tapi di persimpangan jalan. Indah diminta untuk pindah ke angkot yang ada di depannya. Tanpa basa basi Indah segera melakukan apa yang diarahkan tukang supir. Ketika Indah turun, handphone dalam genggamannya jatuh sehingga ia harus membuat supir angkot yang akan ‘menampung’nya menunggu di pinggiran jalan. Ada suara klakson yang kencang dari arah belakang. Tetapi Indah tidak mempedulikan karena jalan masih sangat luas untuk dilalui oleh satu kendaraan roda empat. Indah akhirnya masuk ke dalam angkot yang sudah menunggunya di depan, di pinggir jalan Dramaga.

Tanpa sadar Indah melihat mobil bapak berhenti di depan angkot yang ditumpanginya. Bapak kemudian turun dari mobil dan memaki supir yang membuat bapak harus menekan klakson berkali-kali. Bukan hanya itu, bapak juga mencabut kunci yang menempel di angkot. Terkejut bukan main hati  Indah. Dia merasa bersalah karenanya. Supir angkot itu terlihat gontai kuluar dari mobilnya dengan membawa segepok uang dan surat-surat keterangan kepemilikan kendaraan. Dari dalam Indah dan penumpang lainnya melihat bapak memarahi supir dengan nada tinggi. Supir itu hanya tertunduk lemas. Setelah bosan, bapak melempar kunci angkot jauh dari jangkauan. Supir angkot menunduk dan mengambil kuncinya yang terjatuh jauh. Akan tetapi sadarkah apa yang bapak lakukan setelahnya? Bapak menendang supir angkot yang sebelumnya memberi bapak uang untuk menebus kunci miliknya! Indah langsung keluar dari angkot dan mengingatkan tindakan bapak yang tidak terpuji itu.

“Pak, bukankah hukum di Indonesia tidak dilakukan dalam bentuk kekerasan?”

“Halah, tahu apa kamu?!”, bapak membentak Indah hingga ia menangis.

“Saya mahasiswa sehingga saya sedikit tahu tentang hukum!”

Bapak kemudian pergi tanpa pamit. Tanpa ucapan maaf dan terima kasih atas uang haram yang didapatkan.

Supir angkot itu terlihat lebih tua dari bapak. Dia rela diperlakukan seperti itu karena dia sadar tidak memiliki kekuasaan seperti bapak. Enak yah jadi bapak bisa semena-mena kepada mereka yang lemah? Jadi sebenarnya fungsi bapak itu apa?

Kami berbincang mengenai kejadian ini di angkot Kampus Dalam sepulang dari rapat. Kami begitu semangat memberikan argument dari kejadian minggu lalu. Hingga tiba-tiba supir angkot yang kami tumpangi ikut dalam diskusi tentang bapak,

“iya neng, polisi sekarang sudah semaunya. Ngambil uang juga semaunya, neng. Bukan sepuluh atau duapuluh yang mereka ambil. Tapi bisa sampe tujuhpuluh, neng.”

Kami tertegun kembali mendengar cerita langsung dari supir angkot. Kami merasa gagal menjadi bagian dari mahasiswa yang berperan dalam memberdayakan masyarakat.

Tetapi cerita hari ini membuat aku sadar sesuatu, pak. Bahwa kita harus lebih peka terhadap sesama. Kita harus peduli pada lingkungan sekitar. Kita harus menghargai semua jerih payah orang lain. Bapak, silahkan bercermin lalu tanyakan apa yang sebarnya bapak butuhkan, pengabdian masyarakat atau mengabdi pada pendapatan masyarakat?

 Aku tahu kok bapak bukan orang bodoh, bapak merasakan nikmatnya bangku sekolah, tidak seperti supir angkot yang bapak palak untuk memenuhi kantong bapak. Tidak ada niat untuk memberikan sumpah serapah, tetapi bapak seharusnya lebih hati-hati karena doa orang teraniaya akan terkabulkan. Selamat menunggu balasan, pak. Bapak tidak lebih dari preman berseragam ^^
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s