Bukan sekedar bermain peran

Kamis, 130314

Kelompok 5 akan menjadi fasilitator pada praktikum matakuliah Teknik-Teknik Partisipatoris (Tekpar) minggu ini. Kami akan mencoba mensimulasikan untuk menjadi fasilitator dengan menggunakan teknik Startifikasi Sosial. Teori mengenai teknik Startifikasi Sosial sebelumnya telah kami pelajari hari senin lalu dalam sesi kuliah. Abstrak adalah hal yang kami dapatkan pada kuliah minggu ini. Bingung dan merasa kesulitan juga menjadi boomerang kelompok 5 yang harus memfasilitasi dengan metode Startifikasi Sosial.

Ya, di semester 5 ini saya sedang mendalami (karena sifatnya wajib :p) matakuliah Teknik-Teknik Partisipatoris. Matakuliah ini mengajarkan kepada kami bagaimana cara mengorganisasikan apa saja yang ada di masyarakat dengan berbagai metode yang ada di dalamnya. Awal perkuliahan ini kami merasa kesulitan, kami tidak mendapat feel di matakuliah ini. Rasa asing selalu kami dapatkan ketika mendengar nama matakuliah tersebut. Abstrak. Aneh. Gak Jelas. Semua kata itu menghantui kami yang pada akhirnya memaksa kami untuk lebih mendalaminya di kelas praktikum.

Sudah minggu ke-enam kami mengikutinya. Apakah artinya sudah selama itu kami tidak tahu tujuan dari mata kuliah ini? Tentu tidak karena kami selalu mendapat pencerahan di kelas praktikum hari kamis setelahnya 😀

Setiap praktikum Tekpar setiap kelompok diminta maju sebagai fasilitator yang mensimulasikan berbagai metode yang berbeda tiap minggunya. Hal ini bertujuan untuk membiasakan kami bagaimana caranya menjadi seorang fasilitator di depan masyarakat desa kemudian hari. Terlihat mudah di benak saya ketika teman-teman yang lain maju sebagai fasilitator. Tidak ada bedanya dengan presentasi di kelas dengan menggunakan power point dan sebagainya. Hanya berbicara depan teman-teman sekelas, menjelaskan aturan main, memancing teman-teman berbicara, mengarahkan agar tetap dalam satu topik, memberi kesimpulan, dan beres. Skema ini kemudian muncul di benak saya pribadi dan saya berharap teman-teman yang lain pun begitu hehe.

Tibalah waktunya untuk kelompok 5 maju dan mensimulasikan semua skema yang ada di benak masing-masing. Dan…. Waw tidak semudah yang kami bayangkan. Sulitnya mengarahkan teman-teman yang berperan menjadi masyarakat desa. Kami juga merasa kesulitan untuk membuat teman-teman ikut serta dalam kegiatan hari itu. Ditambah teman-teman yang acuh tak acuh tidak mau bicara jika tidak kami panggil namanya. Jadi mau tidak mau kami meminta teman-teman berbicara dengan menunjuk mereka satu per satu. Masalahnya adalah bagaimana nanti jika kami turun ke lapang? Kami belum mengenal situasi dan kondisi sebelumnya, apalagi masyarakat yang jumlahnya sangat banyak. Toloooooooooooong….

IMG-20140313-00694

keadaan kelas praktikum ketika kelompok 5 sedang berperan sebagai fasilitator

IMG-20140313-00697(1)

kelompok 5 menjadi fasilitator

Kami memainkan peran baru setiap semesternya. Kali ini sudah waktunya kami berperan menjadi masyrakat dan juga fasilitator. Sulit rasanya mengubah skema sebagai pengamat hutan di semester lalu. Akan tetapi di bulan Juli mendatang bukan sekedar peran yang kami mainkan. Kami akan terjun ke lapang untuk menjalankan misi KKP. Kami harus bisa menguasai semuanya dalam hitungan bulan. Memang pada intinya kami harus belajar lagi, harus banyak bertanya lagi, dan juga banyak membaca terkait masalah teknik partisipatoris. And I still learning because difficult doesn’t mean impossible but simply means that we have to work hard!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s