Kalau Kamu Mau…

Kalau kamu mau tahu, menjadi aku itu tidak begitu menyenangkan. Terlalu besar dinding kokoh yang harus aku lewati nantinya. Terlalu sulit untuk menyembunyikan semua keluh kesah.

Kalau kamu mau tahu, menjadi aku itu sungguh melelahkan. Terlalu banyak waktu yang aku habiskan untuk bisa belajar berjalan. Aku juga harus mampu merangkak bahkan berlari jika ingin cepat mencapai tujuan.

Kalau kamu mau tahu, aku bukanlah perempuan yang mudah dikekang. Telalu lama kamu ikat maka akan dengan cepat aku meregang. Terlalu lama kamu perintah maka dengan cepat aku bertitah untuk jangan paksa aku.

Kamu pasti tahu kalau aku memiliki hati yang rapuh, tapi kamu juga tahu semua itu tidak terlihat hanya dari kulit ku.

Kalau kita mau menjadi satu, kamu hanya perlu datang kepadaku lalu kita menyatu dalam satu.

Kalau kamu mau, aku bersedia menunggu. Asal kamu tidak mengekang atau membuat aku menjadi pilu.

Semester 7 Yang Ku Tunggu, Ku Tunggu…

Kalau kemarin saya disibukan dengan agenda rutin di Desa Koleang, sekarang saya sedang disibukan dengan agenda kampus yang sudah menggunung. Sebenarnya saya tinggal menyelesaikan dua matakuliah wajib yang bertemu dosen setiap minggunya serta satu kuliah Studi Pustaka yang merupakan bagian dari penyusunan skripsi tahun depan. Kegiatan akademik sih engga banget kalau gue bilang bikin hari-hari gue sibuk. Tapi ternyata kegiatan non akademik lebih banyak menyita waktu saya belakangan ini. Agenda rapat sepertinya sudah menjadi keharusan dalam satu minggu. Entah membahas yang menjadi agenda rutin atau sekedar membahas peluang untuk masa depan. Rasanya ingin seperti amoeba yang bisa membelah diri deh. AAAAAAAAAAAK!!

Teman-teman di sekitar saya juga berada dalam ritme yang sama yaitu, kuliah, praktikum, cari jurnal, bimbingan, rapat, rapat dan ra-pat. Jadi saya sudah terbiasa dengan kata rapat dan organisasi selama menjadi mahasiswa di IPB. Hmm… untuk saya ini adalah hal yang sangat biasa, tapi lain halnya dengan ayah saya di rumah.

“Kamu tuh udah semester 7 masih aja rapat. Udahlah lepasin aja semuanya, kasih jabatan kamu ke adek kelas. Biar mereka ngerasain jadi kepala kayak kamu. Tahun depan lulus, yah.”

Antara senang dan sedih mendapat komentar tersebut dari ayah. Ayah yang sebenarnya lebih hebat menjalin relasi dengan orang lain, ternyata lebih senang kalau anaknya hanya disibukan dengan kegiatan akademik. Duh, tapi sayang aku tidak demikian, ayah.

Saya hanya manggut-manggut saja kalau sudah diminta untuk berhenti organisasi. Lah, tinggal tiga bulan aktif berorganisasi kenapa saya harus melepaskannya sekarang? Dasar ayah….

Continue reading

Yes, I Did It!

Sudah lama saya tidak mengisi halaman ini dengan barisan kata yang menjadi kalimat. Bukan karena tidak ingin, tapi tidak mau *eh sama aja dong. Well, bukan berarti saya berhenti menulis selama periode KKP-September ini. Saya hanya sedang disibukan dengan satu dan lain hal yang sifatnya rahasia *eaaa. Tentu saja masih berada dalam ranah yang sama yaitu, tulis menulis. Buat saya kegiatan ini sudah menjadi keharusan. Kalau saya tidak menulis dalam satu minggu, setidaknya saya harus membaca satu atau dua buah novel. Ya, hitung-hitung menambah kosa kata dan ide untuk bahan menulis nantinya hehe.

Continue reading