CSR: Tentang Kepedulian Perusahaan

Mata kuliah Pengembangan Masyarakat sudah pernah saya ikuti di kala semester empat lalu. Dasar pemahaman dari jurusan yang sedang saya jalani saat ini bisa kita temukan di dalamnya. Seperti namanya, Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyaraka (SKPM) yang beredidikasi pada pembangunan dan pengembangan masyarakat Indonesia. Banyak ilmu yang saya dapatkan dari matakuliah Pengembangan Masyarakat, yang mana salah satu bahan ajarnya membahas soal Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Kalau boleh mengutip apa yang pernah disampaikan dosen saya, bahwa

“CSR merupakan suatu proses internalisasi faktor-faktor eksternal yang merujuk pada Triple Bottom Line (3P), yaitu People, Planet dan Profit. Artinya, perusahaan yang baik tidak hanya memburu keuntungan ekonomi belaka, tapi juga memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan lingkungan dan masyarakat”

Maka, peran CSR dibutuhkan oleh perusahaan untuk menjalankan kewajibannya yang berkelanjutan. Saya yang masih hijau tentang ini mencoba membuka catatan kuliah kembali menyoal CSR yang dilakukan perusahaan. Jika dikaitkan dengan perjalanan saya tempo kemarin ke salah satu perusahaan tambang terbesar di Indonesia, berarti saya sudah pernah melihat kegiatan sosial dan lingkungan secara langsung. Ya, ini masih berhubungan dengan #NewmontBootcamp yang memberikan banyak pengetahuan baru pada saya. Saya yang awalnya hanya bisa berhayal mengenai CSR perusahaan, akhirnya bisa melihatnya secara langsung berkat PT. Newmont Nusa Teggara (PTNNT). Ini bukan iklan, tapi hanya pengulangan kembali kalau saya sudah melihat secara langsung operasi tambang dan kehidupan di sekitarnya termasuk tinggal bersama warga. Gak percaya?

10425480_844597675596322_4300524884472454270_n

Ini bukti kalau saya melihat operasi tambang secara langsung 😀 dok.pri

NNT_2255

Bermalam di rumah warga di Desa Sengkongkang dok.pak yoyok

Kesejahteraan Masyarakat Sekitar Lokasi Pertambangan

Hal yang paling menyenangkan untuk saya selain pergi ke pantai ialah saat kami tinggal bersama warga. Namun, yang disayangkan adalah waktu yang diberikan untuk kami bercengkrama bersama masyarakat sekitar lokasi pertambangan begitu singkat. Kami hanya diberikan waktu dua hari untuk mengenal keadaan lapang di luar perusahaan. Mungkin itu tidaklah cukup untuk mahasiswa sosial seperti saya yang sudah sering kali turun ke lapang. Hal ini berkaitan dengan informasi yang kami dapatkan dari masyarakat sekitar tidak sebanding dengan kabar yang diberikan oleh PTNNT. Bukannya saya tidak percaya, tapi saya hanya ingin membuktikan secara langsung. Bukan kah salah satu tujuan diadakannya kegiatan ini untuk memberikan ruang dan waktu kepada masyarakat Indonesia melihat secara langsung apa yang sebenarnya terjadi di lokasi pertambangan? Hehe

Saya yang tidak puas akan hal ini langsung nyeletuk pada salah seorang pembina yang menemani kami bermalam di rumah warga.

“kenapa sih waktu untuk nginep di rumah warga cuman dua hari. Terus sekarang nyampenya juga malem, mana sempet ngobrol”

Oke… Saya memang sedikit vokal tentang apa yang berkelit di pikiran saya. Untungnya hal ini langsung direspon oleh pembina kami saat itu. Oke sebut saja dia Cumi.

“Gue juga dulu bisa kok, ini bukan soal berapa lama lu tinggal di warga tapi soal niat elu untuk nyamperin mereka”

Sebenarnya percakapan ini berlangsung agak lama karena perdebatan yang cukup alot soal waktu yang diberikan untuk kami turun ke lapang. Tapi, setelah saya pahami lagi, semua yang dikatakan Cumi soal itu memang benar. Saya harus bisa menjadi tupai pandai yang bisa memanfaatkan kesempatan selagi mampu. Akhirnya, saya berencana untuk berkeliling pagi bersama Rahma salah seorang teman saya di tim 1 untuk bertemu warga.

IMG_20150122_053726

Ibu X (nama disamarkan) penjual gorengan yang kami temui di Desa Sekongkang dok.pri

Beliau adalah salah satu warga yang tinggal cukup jauh dari tempat bermalam kami. Saya dan Rahma emang niat banget nyusurin Desa lingkar tambang di pagi hari. Dan kalian tau apa? Pukul 6 pagi disana sama seperti pukul setengah 5 di Bogor. Saya melihat dan merasakan langsung kalau jalan raya disana sangat sepi dan tidak ada kendaraan yang berlalu lalang padahal matahari sudah mulai memunculkan diri. Seperti kota yang sedang ditinggalkan oleh penghuninya untuk berlibur!

Singkat cerita, banyak cerita seru dari Ibu X yang saya dapatkan dari hasil wawancara dadakan. Saya yang mengaku datang dari Bogor bisa langsung akrab dengan beliau, karena ponakan beliau juga bersekolah di Bogor loh. Yayaya dunia memang sempit.

Ibu X tidak ragu menceritakan kehidupannya sehari-hari pada orang baru seperti kami. Beliau mengatakan, bahwa hidupnya dan hidup masyarakat sekitar di Desa Sekongkang sangat bergantung pada PTNNT. Banyak keuntungan yang beliau rasakan selama ini dengan adanya berbagai program yang beliau sebut memasyarakat. Pernah ingat soal PTNNT yang berhenti operasinya selama 3 bulan di tahun 2014? Hal itu membuat Ibu X sulit mendapatkan penghasilan dari hasil menjual gorengan. Penyebabnya ialah penghematan besar-besaran yang dilakukan masyarakat Desa untuk bisa menyambung kehidupan.

Keadaan masyarakat sekitar yang masih bergantung pada perusahaan bisa saya maklumi. Karena banyak program memasyarakat yang sudah diberikan perusahaan untuk kelangsungan hidup mereka. Salah satu propgram CSR yang paling saya ingat adalah Sentra Pengembangan Masyarakat: Pengembangan Usaha Lokal Pengolahan Coconet Serabut Kelapa.

IMG_20150123_094836

Lokasi sentra pengembangan masyarakat dok.pri

Saya melihat langsung aktivitas masyarakat sekitar membuat jaring jute yang terbuat dari serat kelapa. Mereka nampak bersemangat dalam bekerja, tidak ada muka lelah yang saya lihat kemarin. Semuanya tersirat kalau mereka mencintai pekerjaannya yang sederhana.

IMG_20150123_095636

Aktivitas di lokasi sentra pengembangan masyarakat dok.pri

Kembali pada soal masyarakat yang masih bergantung pada perushaan, masyarakat perlu dibentuk menjadi pribadi yang mandiri. Masyarakat lebih baik bergantung pada program memasyarakat yang sudah dibentuk PTNNT dibandingkan bergantung pada perusahaan itu sendiri. Masyarakat yang selalu bergantung pada PTNNTakan kelimpungan saat perusahaan menyelesaikan kegiatan operasi tambang, tapi jika masyarakat fokus pada pengembangan program, mereka akan survive saat perusahaan selesai beroprasi dengan melakukan berbagai hal dari pengalaman yang didapatkan saat mengelola program tersebut.

Hubungan Yang Memasyarakat

Lanjut cerita dari percakapan dengan Ibu X : merasa tidak puas dengan apa yang sudah saya dapat dari Ibu X, saya dan Rahma kembali berkelana menemukan masyarakat lainnya. Untung dikata beruntung, saya bertemu Bapak Y yang juga mahasiswa IPB sama seperti saya. Dan ternyata beliau adalah mahasiswa bimbingan Pak Lala dan Ibu Eka, yang mana keduanya juga dosen kebanggaan saya. Karena ada hubungan relasi yang kami kenal satu sama lain, diskusi yang terbentuk menjadi hangat dan tidak kaku. Bapak Y menceritakan bahwa kehidupan di desanya sudah lebih baik jika dibandingkan dengan tahun silam walaupun masih ada beberapa kekurangan.

“Memang banyak program CSR yang sudah dilakukan untuk desa ini. Saya dan warga disini juga bisa merasakannya secara langsung. Namun, saya merasa kurang dekat dengan anggota perusahaan yang biasa turun ke lapang. Karena sepenglihatan saya, mereka hanya fokus pada kaum elite seperti kepala desa. Sehingga, masyarakat biasa seperti saya kurang dilirik. Padahal, program yang diberikan sudah baik, andai saja masyarakat seperti kami juga sering dikunjungi dan diajak diskusi seperti yang mereka lakukan pada kaum elite disini”

Harapan yang diutarakan oleh Bapak Y patut PTNNT pertimbangkan. Keinginan untuk lebih mengenal perusahaan yang sudah membantu perekonomian beliau dan masyarakat sekitar bukan yang harus disalahkan. Wajar saja mereka ingin lebih diperhatikan dalam batasan yang lebih intim (mungkin) lah wong PTNNT sudah banyak membantu melalui program yang memasyarakat itu. Tapi, kalau boleh dikaitkan dengan konsep yang saya dapatkan di kuliah Pengambangan Masyarakat lalu, bahwa CSR yang (juga) memiliki orientasi pada masyarakat perlu melakukan pemberdayaan komunitas dan meningkatkan partisipasi multipihak. Artinya, perlu ada dialog khusus antara PTNTT dengan masyarakat agar terciptanya partisipasi pada jejaring sosial perdesaan.

Disini saya tidak mau sok tau dengan memberi masukan seperti di atas, loh. Saya hanya mencoba menganalisis keadaan di lapang dari narasumber yang saya wawancarai yang kemudian saya kaitkan dengan ilmu Pengembangan Masyarakat yang sudah saya dapatkan. Hal tersebut juga berdasar pada pemaparan dosen saya dalam bukunya yang berjudul Pengembangan Masyarakat, bahwa apabila CSR yang dilaksanakan perusahaan berorientasi pada people, planet dan profit, maka kebijakan perusahaan dalam menerapkan kegiatan CSR sudah pada tahap philantrophy dan atau corporate citizenship. Maksudnya disini adalah, perusahaan sudah menekankan adanya kepentingan bersama, dimana penerima manfaat sudah merata dari perusahaan hingga masyarakat luas.

Setiap jengkal kalimat yang saya ulas disini memang sedikit berat. Bukan hal yang mudah untuk menganalisis keadaan di lapang dengan ilmu yang didapatkan di bangku kuliah. Rasanya saya seperti sedang menulis laporan hasil turun lapang di Desa haha.

Jadi, ini lah yang saya dapatkan. Ini yang saya temukan di kehidupan masyarakat sekitar. Tanggapan positif atau negative yang saya tuliskan di atas pure hasil diskusi yang kami lakukan kemarin. Tanpa mengurangi rasa hormat saya bagikan kepada teman-teman semua, bahwa masyarakat memang perlu diperhatikan bukan hanya oleh perusahaan yang ada di dekatnya, tapi kita jangan pernah lupakan peran pemerintah untuk masuk ke dalamnya. Hal yang paling penting lainnya, keadaan lapang yang sesungguhnya tidak semudah teori yang kita dapatkan di kelas. Lagi dan lagi saya berucap syukur karena bisa diberi kesempatan untuk mengenal saudara saya di bagian tengah Indonesia. Semoga hubungan masyarakat sekitar, perusahaan dan pemerintah bisa semakin baik kedepannya ya ^^

So, gimana tanggapan kalian sebagai mahasiswa yang pernah mengkaji CSR di kelas atau pun di lapang, nih? hehe

Advertisements

16 thoughts on “CSR: Tentang Kepedulian Perusahaan

  1. Adella, artikelnya menginspirasi sekali terutama untuk saya juga yang besok akan ke lapang untuk mengkaji CSR dan citra perusahaan. Saya setuju dengan kamu, memang benar permasalahan di lapang itu (berdasarkan wawancara saya dengan PT. X dan CSR LSM yang sedang terikat) adalah stakeholder yang mendominasi. Oleh karena itu, kita sebagai anak yang memiliki basic pengembangan masyarakat semoga bisa membantu walau hanya sekedar mengawasi jalannya csr tersebut. Mohon doanya yah della supa bisa punya cerita baru seperti kamu yang sudah pernah terjun langsung melihat aktivitas perusahaan dan melihat jalannya penerapan program csr. Terima kasih atas inspirasinya, love -FSH

    • wahaha terima kasih princess :* semangat untuk penelitiannya yah, beb! percaya deh bisa penelitian bareng tim CSR perusahaan itu menyenangkan. Selain dapet ilmu soal perusahaan dari sudut sosial, kita juga bisa turun ke masyarakat langsung dan nerapin ilmu yang kita dapetin di kelas KPM huhu gokil lah ternyata KPM itu beneran kece ngajarin banyak hal soal masyarakat! semangat jadi CSR yah!

  2. Waahh…keren deh tulisannya… yup…setuju sama Della.. kehidupan CSR di masyarakat tidak seindah teori di dalam kelas. pengalaman saya penelitian mengenai CSR di salah satu perusahaann tambang di Bogor menyadarkan banyak hal. Walaupun dari sisi positif saya merasakan bahwa program Comdev yang dilaksanakan sudah bagus, tapi masih terkesan lip service dan anehnya saya dilarang untuk terjun ke masyarakat scra lgsung tanpa didampingi staff csr perusahaan tsb. whats wrong? #ngelu -DYA

    • wahahah kok y komen di halaman ini pake anonim kabeh yah :”D oh jadi kalau mau ketemu masyarakat disana harus dikawal sama CSRnya… duh kamu harus gantiin CSR y disana kalau gitu biar bisa kasih ruang ke masyarakat untuk terbuka sama keadaan mereka yah. duuuhhh ini PR banget, kakak, bikin masyarakat dan perusahaan maju tanpa ada y dirugikan huhu

  3. Delle Chaaaaannn 🙂
    memang sih bidang ketertarikanku bukan CSR tapi sepertinyaaa tulisanmu menggugah untuk melakukan “blusukan” tidak sekedar masyarakat Desa… kayaknya aku juga harus belajar akrab dengan CSR…

  4. Setuju dengan tulisan ini, bahwa kebanyakan dari program CSR masih menyentuh para elit desa alias “orang yang sudah berdaya” padahal salah satu tujuan dari CSR adalah memberdayakan masyarakat. Entah, mungkin ini salah satu strategi agar program tersebut terlihat lebih berhasil. Namun, juga perlu dicermati program CSR di beberapa perusahaan juga banyak yang berhasil khususnya pada program lingkungan. Percaya ga percaya, lahan bekas tambang yang luar biasa sudah rusak bisa disulap jadi lahan percontohan untuk pertanian dalam arti luas (pertanian, perikanan, peternakan) hanya dalam kurun waktu satu tahun. Amaze kan? Tapi tentunya untuk mereklamasi lahan itu butuh biaya yang luar biasa besar looh, katanya sih angkanya sampe berember-ember. Meskipun sudah banyak kajian tentang CSR, tapi menurut saya pembahasan ini masih menarik, karena untuk menyeleraskan tiga pilar Elkington (profit, people, planet) dalam kehidupan nyata masih sangat sulit direalisasikan.

    • Memang berbeda yah atmosfer y dibawa oleh peneliti kegiatan CSR ini wkwkw ya, wajar lah kalau perusahaan ngeluarin uang berember-ember sbg bentuk tanggung jawab. berarti penghasilannya lebih dari y mereka keluarkan dong yah… ah ku mau ku mau kerja di perusahaan tambang dalam kota atau luar Jawa!!

  5. Sebut saja mawar… kasihan ibunya kasih huruf X, sebenarnya tidak ada masalah menyebut nama seseorang selama tidak berkaitan dengan privasi atau etika…
    mantap tulisannya… lanjuuut mba X… hihihi

  6. Terima kasih Della sudah menuliskan ini dan membuka mata kita tentang CSR, dll. Nice posting, mungkin akan jauh lebih baik kalau Della pakai bahasa/ pemahaman Della saja sendiri agar yang tidak mengerti apa itu CSR bisa mengerti dan “klik” tentang CSR itu sendiri. Yang dari hati selalu lebih berkesan.

    Jadi timbul pertanyaan saya setelah membaca tulisan ini: apakah tujuan CSR sebenarnya: memberdayakan masyarakat atauu justru menciptakan ketergantungan masyarakat kepada perusahaan? Jengjengjengjeng~~

    • Aku masih belajar nih Kakak Winni semua y berkaitan dengan Pengemas hehe. Oke nanti aku coba menulis dari hati seperti y kakak winni lakukan :*

      Soal tujuan dari CSR sebenarnya adalah jeengjeeeeeng! kamu akan lebih tau setelah terjun langsung ke lapang 😉 semua y ada di buku Pak Toni bisa ditemuin di lapang loh~ mangat winni!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s