Piknik Berisik, Tapi Asik

And into the forest I go, to lose my mind and find my soul – unknow

“Waah, akhirnya bisa liat banyak pohon lagi,” ucap Nindya, salah satu kawan terbaik saya saat kami jalan menyeberang sungai berbatu besar.

dsc_2299

Gerbang masuk menuju tempat rehabilitas elang doc.pri

dsc_2318

Tempat tujuan melihat elang doc.pri

Sejujurnya, apa yang dikatakan Nindya itu 100 persen tepat! Hampir satu tahun lamanya saya tidak menikmati segarnya udara pedesaan. Sudah hampir setahun lamanya juga saya tidak berkesempatan melihat rindangnya pohon yang melambung tinggi ke angkasa. Ya, sudah hampir setahun lamanya ketika saya disibuki dengan status mahasiswa tingkat akhir yang disusul dengan predikat mahasiswa-bau-kencur-yang-baru-lulus. Semua orang saat itu berlomba-lomba untuk mendapatkan pekerjaan pertamanya. Agar ilmu yang masih hangat ini bisa cepat dipakai, katanya.

img_20160917_112601

Pepohonan sepanjang jalan doc.pri

dsc_2311

Jalan setapak menuju rehabilitas elang doc.pri

Rasanya hidup saya saat itu monoton sekali yah, harus berkutat dengan skripsi, bertemu dengan dosen pembimbing agar usulan disetujui, penelitian di tempat saya bekerja saat ini, dan memperbaiki apa-apa yang salah di setiap tahapan itu. Melelahkan… Untung saja saya mempunyai kawan-kawan terbaik yang dikirimkan Tuhan hehe dan untungnya lagi saya mempunyai mereka hingga sekarang!

img-20160917-wa0007

Sahabat piknik bulan ini doc.rere

Well, they are always here. I mean, even though we were not in good condition but I know they will never leave me. And here we are! Menapaki jalan yang cukup panjang untuk bisa kembali menjadi diri sendiri. Hari sabtu, 17 September, rencana kami untuk piknik asik bisa terealisasi. Padahal sebelumnya, rencana-rencana yang sudah tersusun rapi hanya sebatas rencana xoxo. Tapi, kali ini berbeda! Dengan semangat juang untuk mengenang kembali masa-masa kejayaan di kampus, keputusan menjajaki tanah Kec. Cigombong sudah kami lalui. Tepatnya di Suaka Elang Loji, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Kabupaten Bogor, kami menepaki jalur yang sudah banyak orang lewati. Tanpa maksud ikut-ikutan kami kan juga ingin melihat pemandangan alam :p

dsc_2321

Spot kesukaan anak muda di Suaka elang doc.pri

Piknik ala kami tentu berbeda dengan cara yang kalian lakukan, bukan? Tentu, apa yang kami bawa di dalam tas kami bisa jauh berbeda dengan apa yang kalian bawa. Dan bagaimana kami menikmati alam dengan bagaimana kamu menikmatinya bisa saja berbeda. Iya kan? Di sepanjang perjalanan kami tidak bisa berhenti untuk bercanda satu sama lain serta membahas obrolan yang bisa dibilang paling “receh” karena selalu berujung pada gelak tawa. Ya, tapi itu lah cara kami untuk mendekatkan diri satu sama lain, saling terbuka di mana pun kami berada untuk menghabiskan waktu di akhir pekan. Begitulah, tanpa ada rahasia tentang apa yang kami rasa tentang dunia.

img-20160918-wa0021

Candid terbaik! doc.eksa

Sayangnya, untuk kami yang lebih banyak menghabiskan waktu di ibukota merasa begitu tidak berdaya begitu dihadapkan pada kenyataan… jika medan yang harus dilalui untuk mencapai lokasi terlihat menantang. Bahkan di menit ke 10 saja beberapa dari kami sudah mengeluh kelaparan. Karena terlalu banyak obrolan, kami pun merasa kelelahan…

“Duh, gue laper gabisa berenti di sini aja?” keluh salah satu sahabat saya.

“Iya, mekdi enak nih,” disusul yang lainnya.

“Ih, sama laper.” Oke ini saya yang kemudian mengiyakan.

Atau ada juga yang mengeluhkan hal remeh, namun terkesan lucu.

“Aku tuh capek, kamu mah ga bisa aku kodein” rengek sahabat saya yang kebetulan bersama pacarnya.

Atau ada saja bahasan yang selalu ada tanpa perlu mengada-ngada.

“Kenapa, yah, kakinya Kak Kuncung panjang?” saya tahu ini pertanyaan bodoh, tapi saya begitu penasaran hingga harus menanyakan pada sahabat saya, Ala.

“Biasanya kan yah cowok yang kakinya panjang itu…”

Oke sisanya kamu tidak harus tahu. Kamu jangan harap akan mendapatkan jawaban serius dari sahabat saya satu ini. Yang ada kamu hanya ingin berenti di tengah jalan untuk tertawa seperti orang gila.

Tapi, hal-hal seperti ini lah yang kemudian saya rindukan sekembalinya ke ibukota untuk mencari pundi-pundi kesenangan tabungan. Karena waktu yang bisa kami habiskan bersama tidak bisa seperti dahulu lagi. Menyoal kebiasaan untuk berkumpul di kantin dan membuat keributan di fakultas teknik dengan gaya perempuan masa kini biar saja jadi masa lalu. Pandangan negatif dari teman yang membicarakan kami di belakang biar saja terjadi. Karena yang jelas, tidak ada hati orang lain yang harus kami sakiti, iya kan? I think, we absolutely enjoy what we have in our life! Don’t worry 😉

img-20160917-wa0013

Terbaik! doc.rere

To walk in nature is to witness a thousand miracle – Mary Davis

And I can’t wait for the next trip anyway!

Advertisements