Ada Apa dengan Sawit dan Deforestasi di Indonesia?

Kebakaran hutan Tahun 2015 silam menginggalkan cerita pilu bagi mereka yang merasakannya. Berbulan-bulan lamanya langit Sumatera ditutupi kabut asap pekat karena kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah, bahkan kabut asap juga mencapai langit negara tetangga, Singapura dan Malaysia. Semua orang bertanya siapa dalang di balik semua bencana ini?

Fenomena kebakaran hutan dan lahan sudah sering terjadi, seperti agenda tahunan kita terus merayakannya. Kebakaran hutan kerap hubungannya dengan deforestasi yang menyumbang angka tinggi untuk pengurangan luas lahan hutan di Indonesia. Deforestasi akibat kebakaran hutan menyumbang angka yang tidak sedikit pada tahun itu. Tercatat oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) merilis luas lahan terbakar pada 1 Juli – 20 Oktober 2015 setara dengan 32 kali luas Jakarta atau mencapai 2.089.911 ha, 618.574 ha lahan gambut dan 1.471.337 ha non gambut (Data mongabay).

Fakta tersebut menunjukan jika kondisi hutan Indonesia berada pada status yang menghawatirkan. Deforestasi sebagai aktivitas alih fungsi kawasan hutan menjadi non hutan seperti pengembangan sawit menjadi ramai diperbicangkan ketika dilakukan pada lahan dengan nilai konservasi tinggi. Hutan yang seharusnya menjadi habitat populasi satwa langka yang dilindungi kini semakin banyak dirambah untuk kepentingan pribadi. Dari gagalnya penerapan prinsip pelestarian tersebut menyebabkan pengembangan sawit dituding sebagai penyabab deforestasi di Indonesia.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.50.39

doc. Rian Erisman

Patut kita akui sejauh ini komersialisasi kelapa sawit di Indonesia telah melahirkan berbagai masalah lingkungan. Terakhir ialah masalah perubahan iklim akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit., Hutan Indonesia tengah mengalami tekanan yang luar biasa akibat perluasan kelapa sawit. Jika pada 1980 luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia baru mencapai 29.560 hektare, terbatas hanya di Sumatra Utara dan Aceh dengan produksi 0,7 juta ton CPO, pada 2011 Indonesia memiliki perkebunan kelapa sawit seluas 8,9 juta hektare dengan produksi CPO 24,1 juta ton (Ditjebun RI, 2012). Perihal alih fungsi hutan guna percepatan perluasan perkebunan kelapa sawit, memang terkesan ada yang tidak adil dalam kasus ini. Penilaian kemampuan hutan Indonesia untuk meredam secara alami efek gas rumah kaca kerap diabaikan. Yang ditonjolkan hanyalah perluasan perkebunan kelapa sawit dan menjaga kelestarian hutan dilalaikan.

Deforestasi yang terjadi kemudian mengakibatkan perkembangan sawit Indonesia menjadi sorotan dunia. Luas perkebunan sawit di Indonesia Tahun 2016 sekitar 11,6 juta ha menjadikan Indonesia sebagai pengekspor sawit terbesar. Sawit dan produk turunannya semakin berkembang dan menjadi komoditas utama di Indonesia. Pada Tahun 2014, Indonesia telah memproduksi 33,5 juta ton minyak sawit dengan nilai ekspor mencapai US$ 18,9 miliar. Hal ini jadi bukti lain bahwa laju pertumbuhan sawit sangat luar biasa dalam 30 tahun terakhir.

Tahun lalu, Intitut Pertanian Bogor (IPB) menyelesaikan penelitian yang dipimpin oleh Bapak Yanto Santosa, Guru Besar Besar Fakultas Kehutanan IPB, mengenai deforestasi di Indonesia dikaitkan dengan pertambahan wilayah konsensi industri sawit. Menurut beliau berdasar pada hasil penelitian yang sudah dilakukan, sawit bukanlah penyebab utama deforestasi di Indonesia. Karena menurutnya, lahan perkebunan sawit tidak berasal dari kawasan hutan. Penelitian yang dilakukan di Kabupaten Kampar, Kuantan Singingi, Pelalawan, dan Siak, Provinsi Riau, diketahui jika hanya 8,24% kebun sawit yang masih berstatus kawasan hutan atau Areal Peruntukan Kehutanan (APK). Sedangkan, jika dilihat berdasar pada areal perusahaan seluas 46.372,38 ha, sebanyak 68,02% sudah berstatus Areal Penggunaan Lain (APL), 30,01% lainnya berasal dari hutan produksi terbatas, dan 1,97% berasal dari hutan produksi.

WhatsApp Image 2018-05-02 at 13.50.31

doc. Rian Erisman

Boikot sawit atas tuduhan deforestasi yang terjadi di Indonesia tentu tidak memecahkan masalah. Justru penerapan prinsip industri sawit berkelanjutan dan lestari dalam jangka panjang adalah aksi nyata yang harus dihadapi bersama. Untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan kerja sama dan sinergi dari berbagai pihak termasuk pemerintah, swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) serta masyarakat. Karena sebagai penerima manfaat utama pemanfaatan sumber daya alam Indonesia, masyarakat semestinya bukan hanya menerima manfaat dalam kasat nyata, tetapi juga manfaat dalam bentuk produk dan jasa lingkungan yang bisa dirasakan dalam jangka panjang.

Penulis meyakini bahwa kolaborasi antar-aktor (negara, perusahaan, akademisi, LSM) melalui pengembangan regulasi dan tata kelola yang benar serta kredibel dapat menjawab tantangan global dalam usaha menuju praktik kelapa sawit yang berkelanjutan untuk Indonesia.

Advertisements

Piknik Berisik, Tapi Asik

And into the forest I go, to lose my mind and find my soul – unknow

“Waah, akhirnya bisa liat banyak pohon lagi,” ucap Nindya, salah satu kawan terbaik saya saat kami jalan menyeberang sungai berbatu besar.

dsc_2299

Gerbang masuk menuju tempat rehabilitas elang doc.pri

dsc_2318

Tempat tujuan melihat elang doc.pri

Sejujurnya, apa yang dikatakan Nindya itu 100 persen tepat! Hampir satu tahun lamanya saya tidak menikmati segarnya udara pedesaan. Sudah hampir setahun lamanya juga saya tidak berkesempatan melihat rindangnya pohon yang melambung tinggi ke angkasa. Ya, sudah hampir setahun lamanya ketika saya disibuki dengan status mahasiswa tingkat akhir yang disusul dengan predikat mahasiswa-bau-kencur-yang-baru-lulus. Semua orang saat itu berlomba-lomba untuk mendapatkan pekerjaan pertamanya. Agar ilmu yang masih hangat ini bisa cepat dipakai, katanya.

img_20160917_112601

Pepohonan sepanjang jalan doc.pri

dsc_2311

Jalan setapak menuju rehabilitas elang doc.pri

Rasanya hidup saya saat itu monoton sekali yah, harus berkutat dengan skripsi, bertemu dengan dosen pembimbing agar usulan disetujui, penelitian di tempat saya bekerja saat ini, dan memperbaiki apa-apa yang salah di setiap tahapan itu. Melelahkan… Untung saja saya mempunyai kawan-kawan terbaik yang dikirimkan Tuhan hehe dan untungnya lagi saya mempunyai mereka hingga sekarang!

img-20160917-wa0007

Sahabat piknik bulan ini doc.rere

Well, they are always here. I mean, even though we were not in good condition but I know they will never leave me. And here we are! Menapaki jalan yang cukup panjang untuk bisa kembali menjadi diri sendiri. Hari sabtu, 17 September, rencana kami untuk piknik asik bisa terealisasi. Padahal sebelumnya, rencana-rencana yang sudah tersusun rapi hanya sebatas rencana xoxo. Tapi, kali ini berbeda! Dengan semangat juang untuk mengenang kembali masa-masa kejayaan di kampus, keputusan menjajaki tanah Kec. Cigombong sudah kami lalui. Tepatnya di Suaka Elang Loji, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Kabupaten Bogor, kami menepaki jalur yang sudah banyak orang lewati. Tanpa maksud ikut-ikutan kami kan juga ingin melihat pemandangan alam :p

dsc_2321

Spot kesukaan anak muda di Suaka elang doc.pri

Piknik ala kami tentu berbeda dengan cara yang kalian lakukan, bukan? Tentu, apa yang kami bawa di dalam tas kami bisa jauh berbeda dengan apa yang kalian bawa. Dan bagaimana kami menikmati alam dengan bagaimana kamu menikmatinya bisa saja berbeda. Iya kan? Di sepanjang perjalanan kami tidak bisa berhenti untuk bercanda satu sama lain serta membahas obrolan yang bisa dibilang paling “receh” karena selalu berujung pada gelak tawa. Ya, tapi itu lah cara kami untuk mendekatkan diri satu sama lain, saling terbuka di mana pun kami berada untuk menghabiskan waktu di akhir pekan. Begitulah, tanpa ada rahasia tentang apa yang kami rasa tentang dunia.

img-20160918-wa0021

Candid terbaik! doc.eksa

Sayangnya, untuk kami yang lebih banyak menghabiskan waktu di ibukota merasa begitu tidak berdaya begitu dihadapkan pada kenyataan… jika medan yang harus dilalui untuk mencapai lokasi terlihat menantang. Bahkan di menit ke 10 saja beberapa dari kami sudah mengeluh kelaparan. Karena terlalu banyak obrolan, kami pun merasa kelelahan…

“Duh, gue laper gabisa berenti di sini aja?” keluh salah satu sahabat saya.

“Iya, mekdi enak nih,” disusul yang lainnya.

“Ih, sama laper.” Oke ini saya yang kemudian mengiyakan.

Atau ada juga yang mengeluhkan hal remeh, namun terkesan lucu.

“Aku tuh capek, kamu mah ga bisa aku kodein” rengek sahabat saya yang kebetulan bersama pacarnya.

Atau ada saja bahasan yang selalu ada tanpa perlu mengada-ngada.

“Kenapa, yah, kakinya Kak Kuncung panjang?” saya tahu ini pertanyaan bodoh, tapi saya begitu penasaran hingga harus menanyakan pada sahabat saya, Ala.

“Biasanya kan yah cowok yang kakinya panjang itu…”

Oke sisanya kamu tidak harus tahu. Kamu jangan harap akan mendapatkan jawaban serius dari sahabat saya satu ini. Yang ada kamu hanya ingin berenti di tengah jalan untuk tertawa seperti orang gila.

Tapi, hal-hal seperti ini lah yang kemudian saya rindukan sekembalinya ke ibukota untuk mencari pundi-pundi kesenangan tabungan. Karena waktu yang bisa kami habiskan bersama tidak bisa seperti dahulu lagi. Menyoal kebiasaan untuk berkumpul di kantin dan membuat keributan di fakultas teknik dengan gaya perempuan masa kini biar saja jadi masa lalu. Pandangan negatif dari teman yang membicarakan kami di belakang biar saja terjadi. Karena yang jelas, tidak ada hati orang lain yang harus kami sakiti, iya kan? I think, we absolutely enjoy what we have in our life! Don’t worry 😉

img-20160917-wa0013

Terbaik! doc.rere

To walk in nature is to witness a thousand miracle – Mary Davis

And I can’t wait for the next trip anyway!

#AskBNI Memudahkan Ku Menjelajah Indonesia!

Kalau dulu:

Della      : Ma, aku mau ke Stasiun Gambir dulu pesan tiket Kereta Api tujuan Yogjakarta untuk liburan bulan depan.

Kalau sekarang:

Della      : Ma, tiket Kereta Api tujuan Yogjakarta sudah aku pesan via ATM BNI, yah. Untuk hotel juga udah aku booking. Soalnya, aku dapet info seputar hotel dari #Promo #Hotel #AskBNI, Ma.

Kemudahan dan kemudahan bisa kita temukan di dunia yang sudah super canggih ini. Yap, era digital telah membuat kita memasuki gaya hidup baru yang tidak bisa lepas dari alat elektronik. Misalnya saja, Handphone yang kita miliki sekarang bisa kita gunakan lebih dari sekedar menelepon dan mengirim pesan singkat. Kita bisa melakukan hal lain yang tidak bisa dilakukaan sebelum teknologi berkembang seperti saat ini.

Continue reading

Della Anak Bubur

Ak-_JpfpB9oWArBCnYcYaXZBrj6tULR_58nqxC365U9I

Alasan kenapa saya amat suka bubur karena selain mudah ditemui di setiap tempat, saat saya masih sekolah dulu (sekarang lagi postpone sekolah untuk S2 :p) kakak saya sering mentraktir saya bubur. Bukan cuman di satu tempat saja, loh, tapi di setiap tempat di penjuru Indonesia.

Serius… Gak bohong… Bukan lebay…

Continue reading

[Photos] Della Si Pemakan Spaghetti

Kamu pasti kebayang dong makanan panjang lentur ini seperti apa? Iya, Spaghetti… Siapa sih yang ga tau apa itu Spaghetti? Mie asal Italia yang umumnya dimasak selama 9-12 menit ini mudah kita temukan di setiap resto yang kita singgahi? Oops, tapi ini tidak berlaku di resto tradisional yang hanya menyediakan jenis makanan tertentu dari daerah tertentu juga, yah. hihi

Saya yang bisa dibilang doyan makan tapi pemilih ini salah satu pecinta makanan berbentuk panjang, mie (apalagi emangnya :p ?). Dua hari di minggu yang sama saya memesan jenis pasta yang juga sama saat ada kegiatan di luar kantor. Keduanya Spaghetti dengan rasa yang beda, dong. Alasan saya memilih Spaghetti karena mengenyangkan dan worthit untuk dibayar #eaak. Bukan hanya itu, Spaghetti juga cocok dimakan di setiap keadaan. Karena saya penggila makanan jenis mie, jadi jangan heran kalau menu yang dipesan terkadang cuman itu-itu aja. hehe

Spaghetti Tuna Spice dok.pri

Spaghetti Tuna Spice dok.pri

Selain penyuka Spaghetti, saya juga maniak sambal. Jadi kebanyakan menu yang saya pesan memiliki rasa yang pedas hihi. Dan Spaghetti Tuna Spice ini berhasil membuat hidung saya meler dan napsu makan saya bertambah setelahnya… hmm sebenernya sih itu bahaya… oke berarti jangan makan menu ini terlalu sering!

Spaghetti Fungi O Cream dok.pri

Spaghetti Fungi O Cream dok.pri

Walaupun saya merasa zonk karena Spaghetti yang rasa beli terlalu krimi di lidah, tapi saya tertolong dengan adanya saus sambal di meja. Tambahan pretzel di atas pasta dengan campuran fungi di dalamnya menyelamatkan rasa Spaghetti yang saya pesan ini. Eh, kesalahan bukan pada Spaghettinya, tapi pada saya yang memang tidak doyan krimi.

Lain kali saya akan pilih Spaghetti dengan rasa spicy aja deh