Ini Soal Hati Seorang Perempuan

“Del, apasih rasanya pacaran? Gue pengen mulai lagi yang baru, cuman ketakutan gue mengalahkan semuanya.”

Ini ono opo toh yah, malem Jumat saya diisi dengan sesi curahan hati dari salah seorang sahabat dekat. Sebut lah dia Mawar yang sedang tumbuh mekar di kerasnya kehidupan Jakarta. Saya rasa nama Mawar sudah tepat menggambarkan kepribadian si sahabat satu ini. Dia cantik, menawan, cerdas, pandai memikat dan kuat. Untung saja saya pecinta lelaki kekar yang tampan seperti Adam Levine, jadi semua hal yang bagus dari Mawar tidak membuat saya berpaling untuk menjadi penyuka sesama.

Amit-amit Ya Rabb…

Continue reading

Advertisements

Ayo Kita Bangkit (Lagi)!

Usia saya yang menua sudah memberikan banyak pengalaman hidup. Entah itu menyoal kepeduliaan pada diri sendiri atau pada orang yang berada di sekitar. Memang, kadar sensitivitas seseorang itu beda satu sama lain. Dan saya beruntung menjadi bagian dari mereka yang memiliki tingkat sensitivitas tinggi. Walaupun belum banyak yang bisa saya lakukan, setidaknya saya tahu bagaimana membuat mereka sadar dan nyaman dengan adanya saya di sekitar mereka.

Saya masih (dan akan terus) mempelajari apa itu makna kehidupan. Kebersamaan dengan mereka yang kita sayangi tentu lekang oleh waktu. Sensitivitas kita akan terus diuji, seperti bagaimana kita berhadapan dengan orang baru atau siasat apa yang harus dilakukan agar kita bisa membuat keadaan menjadi lebih baik. Semua itu tentu butuh waktu penyesuaian yang bisa kita dapatkan dari pengalaman. Bukan, bukan hanya dari pengalaman hidup diri kita sendiri, tapi juga pengalaman hidup orang lain. Seperti pengalaman mereka, pejuang Indonesia, yang telah gagah merebut kemerdekaan dari jajahan Belanda.

Kompas, Senin 18 Mei 2015, menceritakan sebuah kisah tentang strategi membumi agar lestari untuk menyambut Hari Kebangkitan Nasional yang tepat jatuh di hari ini. Diceritakan bahwa museum dan komunitas ialah kesatuan yang tidak boleh dipisahkan.

“Museum adalah representasi kebudayaan dan sejarah Indonesia. Harus terus dilestarikan dan diperkenalkan kepada masyarakat” – Mardiana (Kepala Museum Nasional Indonesia pada kutipan Kompas, Senin 18/05/15)

Lestari atau tidaknya kebudayaan Indonesia bukan hanya tugas Ibu Mardiana beserta kepala museum lainnya di penjuru negeri, tapi juga tugas kita sebagai masyarakat Indonesia. Klasik memang jika dikatakan seperti itu, tapi kamu yakin mau diam saja dan tidak mau membantu melestarikan budaya Indonesia? Padahal, kebebasan yang kita rasaorkan sekarang ini bagian dari pertumbahan darah para pahlawan kita di hari kemarin. Lalu bagaimana dengan kisah pengalaman Pak Ma’ruf sebagai sukarelawan sekaligus penanggungjawab Museum Perdjoangan Bog di bawah ini?

Museum Perdjoangan Riwayatmu kini dok.pri

Museum Perdjoangan Riwayatmu kini dok.pri

Museum milik Kota Hujan ini sedang berjuang dari ancaman kebangkrutannya. Kebutuhan finansial yang tinggi untuk perawatan dan pengelolaannya memang belum dibantu oleh pemerintah daerah. Saya sebagai warga Bogor begitu sedih ketika membaca berita ini di surat kabar Nasional. Begitu tidak pedulinya kah kita pada tempat yang paling bersejarah di Kota Bogor? Apa kita akan diam saja sampai Museum Perdjoangan Bogor ini benar-benar bangkrut? Yuk, kita sama-sama bangkit untuk melestarikan sejarah negeri ini. Mungkin, bisa dimulai dari kunjungan kesana dan membagikannya lewat tulisan atau hasil jepretan. Tidak ada salahnya kan kita bantu promosi tempat bersejarah milik negeri ini? Atau kamu mau menukar apa yang sedang kamu  genggam (gadget) dengan apa yang pernah mereka genggam untuk Indonesia (re: bambu runcing)? Selamat memilih, kawan. Dan Selamat Hari Kebangkitan Nasional!

One Step Closer

Setelah sekian lama saya berkutat dengan dunia luar kampus, saya kembali dikejutkan dengan info seputar sidang skripsi. Hampir sebulan memang saya tidak datang melongok kampus untuk waktu yang lama, tapi skripsi saya kerjakan sesuai kewajiban, kok. Buktinya saya sudah menyerahkan draft satu (pendahuluan-kesimpulan) pada dua dosen pembimbing saya yang super! Tapi, karena waktu yang belum memungkinkan untuk saya bimbingan dengan keduanya.

Pagi menjelang siang di hari ini saya mendapat kabar yang cukup mengejutkan. Sudah adanya jadwal sidang terprogram membuat saya sedikit kebingungan. Kenapa jadwal saya berada di bagian buntut, yah? Saya kira saya akan maju di pertengahan bulan Juni mendatang. Kalau soal kesiapan jangan ditanya, saya sudah terbiasa bekerja di bawah tekanan. cieeeelaaaah…..

LIHAT JADWAL SAYA dok.pri

LIHAT JADWAL SAYA dok.pri

Oke… Sekarang tinggal bagaimana caranya untuk saya memperbaiki setiap kesalahan yang ada. Setelahnya, saya harus menyelesaikan kewajiban sebelum mendapatkan hak kemudian~ Wish me luck, yah!